Pemprov NTT Sosialisasikan RAD API Perkuat Ketahanan Hadapi Ikli
- 18 Jun 2026 22:47 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Program SIAP SIAGA menyelenggarakan sosialisasi Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim (RAD API) Provinsi NTT Tahun 2025–2045. Kegiatan ini sebagai upaya memperkuat pemahaman dan komitmen para pemangku kepentingan dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Sosialisasi ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil. Berbagai mitra Pembangunan dilibatkan dalam membangun ketahanan daerah terhadap ancaman iklim.
“Kekeringan semakin panjang, terjadi perubahan pola curah hujan, meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi, serta dampak terhadap sektor pertanian, perikanan, dan ketersediaan air bersih menuntut kita untuk mengambil langkah-langkah yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan,” kata Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena, saat membuka kegiatan sosialisasi.
Menurut Gubernur, penyusunan RAD API 2025–2045 menjadi sangat penting sebagai pedoman bersama dalam meningkatkan ketahanan daerah terhadap dampak perubahan iklim. Dokumen tersebut merupakan hasil kerja kolaboratif Kelompok Kerja Perubahan Iklim (Pokja PI) Provinsi NTT yang dibentuk pada tahun 2022 dan dikoordinasikan oleh Bapperida Provinsi NTT dengan dukungan Program SIAP SIAGA.
Setelah melalui serangkaian diskusi, kajian, dan konsultasi lintas sektor sejak awal tahun 2025, dokumen tersebut ditetapkan melalui Keputusan Gubernur NTT Nomor 124/KEP/HK/2026 tentang Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim Provinsi NTT Tahun 2025–2045 yang ditandatangani pada 26 Mei 2026. RAD API disusun pada lima sektor prioritas, yakni pangan, air, energi, kesehatan, dan ekosistem, yang dinilai sangat menentukan masa depan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat NTT.
“RAD API hadir bukan hanya sebagai sebuah dokumen teknis, tetapi sebagai mandat politik dan moral untuk melindungi kehidupan dan penghidupan masyarakat NTT dalam menghadapi perubahan iklim yang nyata. Setiap langkah adaptasi yang kita ambil hari ini adalah investasi bagi masa depan anak cucu kita di bumi Flobamorata yang kita cintai,” tegas Melkiades Laka Lena.
Senada dengan itu, Area Manager Program SIAP SIAGA NTT, Silvia Fanggidae, menegaskan bahwa perubahan iklim dan kebencanaan merupakan dua isu yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, lebih dari 86 persen kejadian bencana di NTT selama dua dekade terakhir berkaitan dengan faktor iklim atau bencana hidrometeorologi. Karena itu, penguatan kebijakan dan perencanaan adaptasi menjadi langkah penting untuk memberikan kepastian dan perlindungan bagi masyarakat yang hidup dalam kondisi iklim yang semakin ekstrem.
Kegiatan sosialisasi diikuti oleh 161 peserta yang berasal dari kementerian, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi masyarakat sipil, forum pengurangan risiko bencana, organisasi penyandang disabilitas, serta berbagai mitra pembangunan. Pemerintah Provinsi NTT berharap seluruh pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang sama mengenai arah kebijakan adaptasi perubahan iklim sehingga implementasi RAD API 2025–2045 dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. (RLS-MVM/ST)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....