BBWS Nusa Tenggara II Perluas JIAT Antisipasi Kekeringan Dukung Ketahanan Pangan
- 27 Jul 2026 15:24 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II memperluas pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) sebagai langkah menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur.
Pelaksana Harian Kepala BBWS Nusa Tenggara II, Davianto Frangky B. Welkis saat diwawancarai RRI Kupang, Jumat, 24 Juli 2026 mengatakan, strategi tersebut dijalankan melalui sejumlah program pemerintah yang berfokus mengatasi krisis air. Menurutnya, pengembangan JIAT diperluas ke seluruh wilayah NTT dengan mempertimbangkan potensi cekungan air tanah serta usulan pemerintah daerah.
"JIAT sendiri telah banyak kita bangun. Namun menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan semakin ekstrem, kami memperluas program ini ke seluruh wilayah NTT berdasarkan potensi cekungan air tanah dan usulan pemerintah daerah," ujar Frangky Welkis. Ia menjelaskan langkah tersebut juga didukung Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 mengenai percepatan rehabilitasi, pembangunan, operasi, dan pemeliharaan jaringan irigasi untuk mendukung swasembada pangan.
Frangky menjelaskan pembangunan JIAT dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dikelola Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Pelaksanaan pembangunan dilakukan BBWS Nusa Tenggara II, sementara pemerintah daerah berperan mengusulkan lokasi melalui Sistem Informasi Usulan Pembangunan Irigasi (Sipuri).
"Seluruh kabupaten, kota, maupun provinsi diharapkan memanfaatkan kesempatan ini dengan mengusulkan melalui Sistem Informasi Usulan Pembangunan Irigasi dan memenuhi seluruh readiness criteria yang dipersyaratkan," katanya. Ia menambahkan setiap usulan akan diverifikasi terlebih dahulu sebelum memperoleh alokasi anggaran pembangunan dari pemerintah pusat.
Sejak program tersebut dijalankan pada 2025, BBWS Nusa Tenggara II telah membangun JIAT di 19 titik yang tersebar di berbagai daerah NTT. Pada 2026, sebanyak 42 lokasi telah terverifikasi untuk pelaksanaan tahap pertama dan pemerintah kembali membuka pengusulan tahap kedua bagi seluruh daerah.
"Harapan kami, setelah dibangun infrastruktur ini dapat dimanfaatkan secara maksimal dan digunakan secara bijaksana. Infrastruktur tersebut dibangun dari uang rakyat sehingga masyarakat perlu menjaga serta merawatnya agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang," ujar Frangky Welkis. Ia berharap pengembangan JIAT mampu menjadi solusi menghadapi kekeringan sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di Nusa Tenggara Timur. (DB)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....