IAKN Kupang Tanamkan Empati kepada Mahasiswa lewat Pembelajaran
- 12 Agt 2026 06:42 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang terus menanamkan nilai empati kepada mahasiswa melalui proses pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan langsung di tengah masyarakat. Pernyataan ini disampaikan Dosen Etika IAKN Kupang, Merling Messakh, M.Pd di Pro1 RRI Kupang, Sabtu, 8 Agustus 2026.
“Di dalam pendidikan dan pengajaran, kami menanamkan empati kepada setiap mahasiswa. Luaran dari setiap mata kuliah tidak hanya berhenti di dalam kelas, tetapi mahasiswa diharapkan dapat menerapkannya di tengah komunitas,” katanya.
Menurut Merling, penerapan pembelajaran tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan di sekolah, panti asuhan, pasar, hingga tempat wisata. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung berbagai persoalan sosial sekaligus belajar menerapkan etika dan empati dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketika saya memberikan tugas terkait etika digital, mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengamati YouTube, Facebook, TikTok, dan platform lainnya. Mereka menganalisis unggahan yang dinilai memiliki persoalan atau pelanggaran etika,” ujarnya.
Hasil pengamatan mahasiswa kemudian dikembangkan menjadi materi edukasi digital yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas. Materi tersebut antara lain dibuat dalam bentuk flyer dan video pendek yang berisi edukasi mengenai penggunaan media sosial secara etis dan bertanggung jawab.
“Setelah melakukan analisis, kami tidak berhenti pada tugas akademik saja, tetapi mahasiswa membuat edukasi melalui flyer dan video-video pendek. Tujuannya untuk mengedukasi warga digital yang setiap hari mengakses media sosial,” kata Merling.
Selain pendidikan dan pengajaran, IAKN Kupang juga mendorong mahasiswa terlibat dalam kegiatan lapangan dan penelitian sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Menurut Merling, perkembangan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), tidak seharusnya membuat kegiatan akademik kehilangan makna, tetapi harus digunakan secara kritis dan bertanggung jawab. (ST)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....