Paskibraka NTT 2026 Dibentuk dengan Disiplin dan Mental Kuat

  • 21 Agt 2026 11:41 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Keberhasilan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam menjalankan tugas pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak terlepas dari proses pembinaan yang intensif. Komandan Pelatih Paskibraka Provinsi NTT 2026, Letda Kes Rahmat Satria Valentino Sarumaha, S.Psi dari Lanud El Tari Kupang, menegaskan bahwa pembentukan Paskibraka tidak hanya berorientasi pada kemampuan baris-berbaris, tetapi juga karakter, disiplin, etika, dan ketahanan mental.

Valentino mengatakan, dirinya menerima mandat sebagai komandan pelatih dengan waktu persiapan yang relatif singkat. Namun, ia memastikan waktu sekitar 22 hari pemusatan pendidikan dan pelatihan dapat dimaksimalkan untuk membentuk kemampuan para peserta. “Ketika saya diberi mandat, diberi tanggung jawab untuk melaksanakan sebuah tugas dengan deadline tertentu, saya akan mengusahakan semaksimal mungkin tugas terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Menurut Valentino, para peserta yang mengikuti pemusatan pelatihan merupakan siswa-siswi yang telah melalui proses seleksi berjenjang dan cukup ketat. Kondisi tersebut membuat para calon Paskibraka relatif cepat beradaptasi dengan pola latihan yang diberikan. “Anak-anak yang dibawa ke provinsi memang sudah cukup responsif. Mereka dipilih secara selektif, ada beberapa tes, baik tes psikologi, tes pemahaman dan sebagainya. Jadi anaknya memang juga cepat tanggap,” katanya.

Ia menjelaskan, tim pelatih terdiri dari lima orang yang berasal dari unsur TNI Angkatan Udara, TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, serta Kepolisian melalui Brimob. Seluruh pelatih bekerja secara kolaboratif dalam membina peserta, termasuk membagi pasukan saat latihan. Valentino menegaskan, keputusan mengenai siapa yang dipercaya menjadi pembawa baki, pengibar bendera maupun komandan pasukan sepenuhnya diserahkan kepada tim pelatih tanpa intervensi pihak lain.

Dalam proses tersebut, seluruh calon Paskibraka diberikan kesempatan dan porsi latihan yang sama. Valentino mengatakan, penentuan posisi dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap kemampuan peserta selama latihan, termasuk responsivitas, ketanggapan, ketegapan langkah dan kemampuan menghadapi situasi tak terduga.

Tantangan terbesar, lanjut Valentino, adalah menyatukan peserta dari berbagai kabupaten dan karakter yang berbeda menjadi satu tim yang kompak. Karena itu, latihan juga diarahkan untuk membangun jiwa korsa, rasa empati, disiplin serta etika dalam kehidupan bersama. Ia juga menanamkan pemahaman kepada peserta bahwa kesalahan bukanlah kegagalan. “Kesalahan adalah awal dari keberhasilan,” tegasnya. Menurut dia, peserta harus belajar bertanggung jawab dan mampu mengambil tindakan cepat ketika melakukan kesalahan.

Valentino mengaku terharu setelah melihat seluruh proses latihan selama 22 hari berbuah keberhasilan saat pengibaran dan penurunan bendera. Ia bahkan mengaku sempat meneteskan air mata karena bangga melihat anak-anak binaannya mampu menjalankan tugas dengan baik. Kepada generasi muda NTT yang ingin mengikuti Paskibraka, ia berpesan agar mempersiapkan fisik dan mental sejak dini serta menjaga disiplin dan etika. “Sikap disiplin dan juga etika itu tidak akan pernah berubah, tidak akan pernah tergeser oleh masa,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....