Mutiara Pagi: Rahasia Menggunakan Uang dalam Perspektif Kecukupan

  • 29 Jul 2026 19:37 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah kehidupan modern yang semakin materialistis, uang sering kali dianggap sebagai ukuran keberhasilan, kehormatan, bahkan sumber rasa aman seseorang. Pandangan tersebut dapat membuat manusia terjebak dalam mengejar kekayaan hingga mengorbankan keluarga, kesehatan, integritas, bahkan hubungan dengan Tuhan. Melalui Program Mutiara Pagi RRI Kupang, Penyuluh Agama Kristen pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT, Apriliatus Laiskodat, mengajak umat untuk melihat uang bukan sebagai tujuan hidup, melainkan sebagai alat yang dipercayakan Tuhan untuk dikelola dengan benar.

Apriliatus menjelaskan, pesan tersebut sejalan dengan nasihat Rasul Paulus kepada Timotius dalam 1 Timotius 6:9–10. Saat itu, jemaat di Efesus hidup di tengah lingkungan perdagangan yang maju, sehingga sebagian orang mulai menganggap kekayaan dan keuntungan materi sebagai tanda keberhasilan, termasuk dalam kehidupan rohani. Paulus kemudian mengingatkan bahwa persoalan bukan terletak pada kepemilikan harta, tetapi pada keinginan yang berlebihan untuk menjadi kaya hingga menguasai hati manusia.

Menurut Apriliatus, orang percaya perlu menjaga hati dari ambisi yang salah. Keinginan untuk bekerja keras dan meningkatkan kesejahteraan keluarga bukanlah sesuatu yang keliru, tetapi dapat menjadi bahaya ketika berubah menjadi keserakahan. Seseorang bisa mulai mengukur nilai dirinya dari jumlah harta, mengabaikan keluarga, meninggalkan ibadah, bahkan melakukan tindakan tidak benar demi mendapatkan lebih banyak uang.

Ia menegaskan bahwa Tuhan memanggil setiap orang untuk hidup dalam perspektif kecukupan. Kekayaan bukan sumber utama keamanan hidup, sebab hanya Tuhan yang mampu memberikan kepuasan sejati. Karena itu, setiap berkat yang diterima harus digunakan dengan penuh syukur, tanggung jawab, dan hikmat agar dapat menjadi sarana untuk memuliakan Allah serta membantu sesama.

Lebih lanjut, Apriliatus mengingatkan tentang jerat keinginan yang dapat menenggelamkan manusia. Cinta terhadap uang sering kali tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi berkembang melalui keinginan kecil yang terus dipelihara, seperti mengejar gengsi, membeli sesuatu demi pengakuan, atau bekerja tanpa batas hingga kehilangan keseimbangan hidup. Karena itu, umat diajak untuk mampu membedakan kebutuhan, keinginan, dan ambisi yang tidak sehat.

Ia juga menekankan bahwa yang menjadi masalah bukanlah uang, melainkan ketika manusia menjadikan uang sebagai tuan dalam hidupnya. Mengutip 1 Timotius 6:10, Apriliatus menjelaskan bahwa cinta uang dapat membuat seseorang menyimpang dari iman dan kehilangan damai sejahtera. Ketika Kristus menjadi pusat kehidupan, uang akan kembali pada fungsi yang benar, yakni sebagai alat untuk melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain.

Sebagai penutup renungan, Apriliatus mengajak umat Kristen di NTT untuk menjadikan Kristus sebagai sumber identitas, pengharapan, dan keamanan hidup. Dengan hati yang dipuaskan oleh Tuhan, manusia dapat terbebas dari ketamakan, belajar hidup dalam rasa syukur, serta menggunakan setiap berkat yang dipercayakan Allah secara bijaksana. Menurutnya, kekayaan sejati bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang kehidupan yang berkenan kepada Tuhan dan membawa manfaat bagi sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....