Mutiara Pagi: Memulihkan atau Merusak?

  • 17 Sep 2026 10:45 WIB
  •  Kupang

RRI CO ID, Kupang - Setiap manusia pada dasarnya memiliki daya pengaruh yang besar bagi lingkungannya tanpa harus menjadi seorang pejabat, pendeta, atau pemimpin besar. Hal tersebut ditegaskan oleh Penyuluh Agama Kristen Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT, Yerniaman LaIa, S.Th., saat menjadi narasumber dalam program Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Kupang. Mengusung tema "Memulihkan atau Merusak" yang dilandasi firman Tuhan dari Efesus 4:29–32, Ia mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali dampak dari setiap kehadiran dan pengaruh yang ditinggalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai orang tua, guru, maupun sesama rekan.

Yerniaman menjelaskan bahwa pengaruh yang dihadirkan setiap individu dapat tecermin secara nyata melalui setiap ucapan yang dikeluarkan. Merujuk pada Efesus 4:29, perkataan umat Kristiani idealnya tidak sekadar benar, tetapi harus memiliki tujuan utama untuk membangun serta memulihkan. Perbedaan besar terletak pada motivasi di balik ucapan tersebut; nasihat atau teguran yang didasari oleh kasih akan mendatangkan pemulihan, sementara ucapan yang didorong oleh niat menyakiti hanya akan merusak serta menghancurkan perasaan sesama.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahaya kemarahan yang tidak dikelola dengan baik sebagaimana diperingatkan dalam Efesus 4:31. Menurutnya, rasa marah merupakan respons alami manusia, namun jika dibiarkan berlarut-larut akan berubah menjadi kepahitan, kebencian, hingga merusak hubungan antarpribadi. Banyak orang terjebak dalam luka masa lalu hanya karena terus memutar kembali kenangan buruk dalam pikiran mereka, padahal Tuhan menghendaki setiap umat-Nya mengalami pemulihan jiwa yang sejati.

Dalam paparannya, Yerniaman juga menekankan pentingnya memutus rantai trauma agar tidak mewariskan luka batin kepada generasi berikutnya. Seseorang yang tumbuh dengan kenangan sering dihina, dibanding-bandingkan, atau menerima kekerasan verbal berisiko mengulangi pola serupa saat dewasa. Kedewasaan rohani yang sejati teruji ketika seseorang berani mengambil keputusan untuk menghentikan siklus luka tersebut dan tidak menjadikan pengalaman pahit masa lalu sebagai alasan untuk melukai orang lain.

Guna menjadi pembawa pemulihan di tengah masyarakat, pesan Efesus 4:32 mengingatkan umat untuk senantiasa mengedepankan sikap ramah, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni. Yerniaman menegaskan bahwa mengampuni dan merendahkan diri bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah kekuatan rohani yang nyata. Di saat dunia sering kali mengajarkan pembalasan, ajaran Kristus justru mengajak setiap orang untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Dasar utama dari panggilan untuk memulihkan sesama adalah kesadaran bahwa manusia telah lebih dahulu dipulihkan dan diampuni oleh Kristus. Setiap tindakan mengasihi, menerima, dan mengampuni orang lain bukanlah syarat yang lahir dari kesempurnaan diri, melainkan wujud ucapan syukur atas kasih karunia Allah yang telah diterima terlebih dahulu.

Melalui renungannya, Yerniaman LaIa berharap masyarakat dapat terus berjuang menjadi agen pembawa pemulihan di mana pun berada. Dengan menyebarkan tutur kata yang membangun dan hati yang penuh pengampunan, setiap individu diharapkan mampu membawa sesamanya semakin dekat kepada Tuhan serta memberikan pengharapan bagi mereka yang sedang membutuhkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....