Mutiara Pagi: Takut Ketinggalan Tren, Lupa Tujuan Hidup
- 29 Jul 2026 10:47 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Perkembangan teknologi dan media sosial telah menghadirkan banyak kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Namun, di sisi lain, muncul fenomena takut ketinggalan tren yang membuat sebagian orang lebih fokus mengejar popularitas, harta, maupun pengakuan daripada tujuan hidup yang sebenarnya. Kondisi tersebut menjadi pembahasan dalam Program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Kupang Jumat, 24 Juli 2026 dengan tema "Takut Ketinggalan Tren, Lupa Tujuan Hidup."
Dalam program tersebut, Ustadz Abdul Syahril, MH mengingatkan bahwa setiap manusia patut memulai hari dengan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Menurutnya, seseorang yang bangun dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki rezeki untuk memenuhi kebutuhan hari itu telah memperoleh nikmat yang sangat besar. Karena itu, rasa syukur menjadi sikap utama yang harus terus dipelihara dalam menjalani kehidupan.
Ia menjelaskan bahwa manusia tidak akan pernah mampu membalas seluruh nikmat yang diberikan Allah SWT karena jumlahnya tidak terhitung. Oleh sebab itu, yang menjadi kewajiban seorang hamba adalah mensyukuri setiap karunia tersebut melalui amal dan ketaatan, bukan berusaha membalasnya. Kesempatan hidup yang masih diberikan setiap hari juga menjadi pengingat agar manusia memanfaatkannya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Lebih lanjut, Ustadz Abdul Syahril menyoroti kecenderungan masyarakat yang menjadikan jumlah pengikut di media sosial, jabatan, kekayaan, maupun ketenaran sebagai ukuran keberhasilan hidup. Menurutnya, semua pencapaian tersebut tidak menjamin seseorang memperoleh ketenangan. Banyak orang yang telah meraih kesuksesan secara materi tetap menghadapi kegelisahan karena ketenangan sejati tidak bersumber dari hal-hal yang bersifat duniawi.
Ia menegaskan bahwa tujuan hidup seorang muslim adalah menjalani kehidupan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Karena itu, setiap aktivitas hendaknya diarahkan pada hal-hal yang membawa kebaikan dan bernilai ibadah. Menurutnya, ibadah tidak hanya terbatas pada ritual keagamaan, tetapi juga mencakup seluruh perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan niat baik serta memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya meluruskan niat dalam setiap aktivitas. Makan, bekerja, berpakaian, belajar, hingga memanfaatkan media sosial dapat menjadi bernilai ibadah apabila dilakukan untuk mencari rida Allah dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Sebaliknya, jika semua itu hanya bertujuan mengejar popularitas atau pujian manusia, maka nilai spiritualnya akan hilang.
Ustadz Abdul Syahril mengajak masyarakat agar tidak terjebak dalam perlombaan mengikuti tren hingga melupakan tujuan hidup. Menurutnya, mengikuti perkembangan zaman bukanlah sesuatu yang salah selama tetap memiliki arah yang benar, menjaga niat, serta menjadikan setiap aktivitas sebagai sarana untuk berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian, seseorang dapat menjalani kehidupan modern tanpa kehilangan ketenangan dan makna hidup yang sesungguhnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....