SDI Naimata, dari Tiga Shift menuju Satu Harapan
- 22 Jul 2026 18:24 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Langkah-langkah kecil Adiba Shakila Ramadani dan kawan-kawan sejawat menuju harapan baru, kini terasa lebih ringan. Siswi kelas VI C SD Inpres Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur itu mengaku tak lagi harus menghitung waktu agar tidak pulang menjelang malam.
Tidak ada lagi kelelahan karena belajar hingga sore, apalagi rasa khawatir berjalan pulang ketika matahari mulai tenggelam. Kini, pagi menjadi awal belajar, siang menjadi waktu pulang, dan sore kembali menjadi milik mereka bersama keluarga, sahabat-sahabatnya, dan tetangga.
Perubahan itu lahir dari program revitalisasi pendidikan yang menghadirkan ruang-ruang belajar baru, fasilitas yang lebih layak, serta lingkungan sekolah yang semakin aman dan nyaman. Bagi banyak orang, revitalisasi mungkin hanya berarti pembangunan gedung.
Namun bagi Adiba dan ratusan teman-temannya, revitalisasi berarti kesempatan menikmati masa kecil yang lebih utuh. Mereka ingin menikmati waktu luang layaknya anak-anak lain di sekolah yang lengkap fasilitas belajarnya.
"Menurut saya, ini sangat berdampak untuk siswa karena membuat kami lebih rajin belajar. Sekarang kami bisa belajar dengan aman dan nyaman," tuturnya dengan wajah penuh semangat.
| Baca juga: Sumba Barat Gelar Konser Doa Satu Juta |
Sebelum pembangunan dilakukan, SD Inpres Naimata harus menerapkan tiga shift pembelajaran. Sebagian siswa masuk pagi, sebagian siang, bahkan ada yang baru menyelesaikan kegiatan belajar ketika senja mulai tiba.
Kondisi itu membuat waktu istirahat berkurang, aktivitas bermain terganggu, hingga kesempatan mengikuti les maupun kegiatan pengembangan diri menjadi terbatas.
Kini situasinya berubah.
Tambahan ruang belajar hasil program revitalisasi Pemerintah Prabowo-Gibran Tahun 2025, memungkinkan seluruh peserta didik mengikuti pembelajaran dalam satu shift. Tidak ada lagi pergantian kelas yang melelahkan.
Guru dapat mengajar lebih teratur, sementara siswa belajar dalam suasana yang lebih kondusif. Bagi para guru, perubahan itu menghadirkan semangat baru bagi mereka menuntun anak bangsa menuju generasi emas 2045.
Jekson S. V. Haga, salah seorang guru di sekolah tersebut, mengaku revitalisasi bukan sekadar menghadirkan bangunan baru. Menurutnya revitalisasi pendidikan sudah mulai mengembalikan kualitas layanan pendidikan yang selama ini terkendala keterbatasan ruang belajar.
Guru tidak lagi berpacu dengan waktu untuk berganti kelas hingga sore hari. Mereka memiliki kesempatan lebih luas mempersiapkan materi pembelajaran sekaligus membimbing peserta didik melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang sebelumnya sulit dilaksanakan.
Kepala SD Inpres Naimata, Martinus Klau, merasakan manfaat yang sama. Menurutnya, perubahan paling membahagiakan bukan hanya tersedianya ruang kelas baru, melainkan perubahan kehidupan sehari-hari anak-anak.

Kini mereka pulang lebih awal. Mereka memiliki waktu beristirahat bersama keluarga, bermain dengan teman sebaya, mengerjakan tugas sekolah, bahkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang selama ini sulit diwujudkan.
Sekolah pun kembali menjadi ruang tumbuh yang sesungguhnya, bukan sekadar tempat mengejar jam pelajaran. Di balik dinding-dinding baru yang berdiri kokoh, tersimpan harapan yang ikut dibangun sedikit demi sedikit.
Harapan agar anak-anak belajar tanpa rasa takut, guru mengajar dengan tenang, dan orang tua melepas putra-putrinya ke sekolah dengan penuh keyakinan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernest S. Ludji, melihat revitalisasi sebagai investasi bagi masa depan. Menurutnya, ruang kelas yang aman dan nyaman bukan hanya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tetapi juga tempat lahirnya mimpi-mimpi besar generasi penerus bangsa.

Pandangan itu sejalan dengan tujuan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) pemerintah melalui revitalisasi satuan pendidikan yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Program tersebut tidak hanya memperbaiki bangunan sekolah, tetapi juga menyediakan ruang kelas baru, fasilitas sanitasi yang layak, serta sarana pendukung lain yang menciptakan lingkungan belajar lebih sehat, aman, dan produktif.
Di SD Inpres Naimata, perubahan itu kini dapat dilihat dengan mata, tetapi yang lebih penting adalah perubahan yang dirasakan oleh hati. Di ruang-ruang kelas yang baru, anak-anak tidak lagi sekadar belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Mereka sedang belajar bermimpi. Sebab pendidikan yang berkualitas tidak hanya dibangun dengan kurikulum dan buku pelajaran.
Pendidikan juga tumbuh dari ruang yang menghadirkan rasa aman, kenyamanan, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak memperoleh kesempatan terbaik untuk meraih masa depannya. Dan di sudut Kota Kupang itu, mimpi-mimpi tersebut kini mulai menemukan rumahnya. (at/rrikupang)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....