Sebanyak 3.942 Rumah Rusak, 19.737 Jiwa Mengungsi Mandiri
- 24 Agt 2026 18:23 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kepala Dinas PUPR Kabupaten Sikka Margaretha M.D.M. Bapa memaparkan bahwa gempa berdampak pada seluruh wilayah Kabupaten Sikka. Sebanyak 21 kecamatan terdampak dengan sekitar 352.000 jiwa merasakan dampak gempa.
Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 3.942 rumah warga mengalami kerusakan, terdiri atas 854 rumah rusak berat, 824 rumah rusak sedang dan 2.264 rumah rusak ringan. Data tersebut dihimpun dari pemerintah di tingkat kecamatan, kelurahan dan desa, kemudian diverifikasi dan divalidasi bersama BNPB serta Kementerian PU.
Selain rumah warga, kerusakan juga ditemukan pada fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, gedung pemerintahan, jalan, jembatan, rumah ibadah, sarana air bersih dan sanitasi. Pada sektor pemerintahan, tercatat delapan gedung rusak berat, enam rusak sedang dan 38 rusak ringan.
Kantor Bupati Sikka telah menjalani asesmen oleh tim Balai dan direkomendasikan untuk digunakan secara terbatas. Sementara itu, Mall Pelayanan Publik dan gedung perpustakaan yang baru dibangun sekitar dua tahun lalu juga diminta segera mendapatkan asesmen lebih lanjut.
Pada sektor kesehatan, tim telah melakukan asesmen terhadap tiga rumah sakit dengan rekomendasi berbeda sesuai tingkat kerusakan dan keamanan masing-masing bangunan. Selain itu, terdapat 27 puskesmas yang tersebar di Kabupaten Sikka dan masih dalam proses pemeriksaan.
Pemerintah daerah juga terus mendata kerusakan fasilitas pendidikan dan rumah ibadah untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Palue Hadapi Ancaman Krisis Air Bersih
Ketersediaan air bersih menjadi salah satu persoalan mendesak, terutama di Kecamatan Palue. Margaretha menjelaskan, sebagian besar masyarakat Palue mengandalkan air hujan yang ditampung dalam bak penampungan.
Gempa menyebabkan banyak bak penampungan mengalami keretakan sehingga persediaan air masyarakat terganggu. "Untuk konsumsi air bersihnya terbatas pasca keretakan di bak-bak penampung air hujan," ujarnya.
Pemerintah sementara mendorong distribusi air mineral ke wilayah terdampak. Satu truk air mineral telah dikirim ke Palue, namun pasokan tersebut diperkirakan cepat habis sehingga distribusi lanjutan perlu segera dilakukan.
Jalur Utara dan Jembatan Jadi Perhatian
Kerusakan infrastruktur transportasi juga menjadi perhatian serius. Salah satunya ruas jalan provinsi di jalur utara yang menghubungkan Kabupaten Sikka dan Kabupaten Ende.
Sebelum gempa, ruas tersebut telah menghadapi ancaman akibat bencana hidrometeorologi. Gempa kemudian memperparah kondisi jalan hingga lebar badan jalan yang dapat dilalui disebut hanya tersisa untuk satu kendaraan.
Sejumlah jembatan juga dilaporkan berada dalam kondisi kritis, termasuk jembatan yang menjadi akses menuju kawasan wisata dan fasilitas pendidikan. Pemerintah daerah turut melaporkan sejumlah ruas jalan tertutup longsor. Mobilisasi alat berat menjadi tantangan karena kondisi geografis dan medan yang sempit sehingga menyulitkan kendaraan pengangkut alat berat.
Dinas PUPR Kabupaten Sikka saat ini hanya memiliki dua alat berat, yakni satu excavator dan satu loader. Kedua alat tersebut sudah berusia cukup tua sehingga kapasitas penanganan dalam kondisi bencana menjadi terbatas, dan disejumlah wilayah pesisir, gempa juga memperparah kerusakan akibat abrasi.
Salah satu ruas jalan kabupaten di wilayah pesisir Palue dilaporkan hampir putus. Di sekitar lokasi terdapat fasilitas sekolah dan kantor camat yang terancam apabila abrasi terus berlangsung.
Lebih dari 21 Ribu Warga Berada di Pengungsian
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Sikka hingga Minggu sore, sebanyak 5.658 kepala keluarga atau 19.737 jiwa mengungsi secara mandiri di 19 kecamatan. Sementara itu, di lokasi pengungsian terpusat Gelora Samador tercatat 345 kepala keluarga atau 1.264 jiwa.
Pemerintah juga telah memfasilitasi sebagian warga yang ingin kembali ke rumah adat dengan dukungan logistik. Pemerintah Provinsi NTT bersama Pemerintah Kabupaten Sikka dan pemerintah pusat terus memperkuat koordinasi untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, asesmen kerusakan dipercepat, serta infrastruktur vital dapat segera dipulihkan.
Percepatan penanganan diarahkan pada satu tujuan utama, yakni memastikan masyarakat terdampak gempa dapat kembali merasa aman, memperoleh pelayanan dasar, dan secara bertahap kembali menjalani kehidupan normal. (rls/at)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....