Lakoat Kujawas Dokumentasikan Tradisi Masyarakat Mollo lewat Buku Pah Pinan
- 30 Jun 2026 14:30 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Komunitas Lakoat Kujawas mendokumentasikan pengetahuan tradisional masyarakat Molo, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), melalui buku kumpulan esai bertajuk Pah Pinan sebagai upaya menjaga ingatan kolektif dan melestarikan budaya yang mulai ditinggalkan generasi muda.
Anggota Lakoat Kujawas, Findi Lengga, mengatakan buku tersebut lahir dari kegelisahan terhadap semakin memudarnya pengetahuan masyarakat tentang budaya dan tradisi membaca alam akibat perkembangan zaman.
"Proyek ini kami lakukan sebagai upaya memperpanjang ingatan akan kebudayaan kami. Tulisan-tulisan ini berasal dari pengalaman pribadi anggota komunitas, bukan cerita fiksi, sehingga menjadi arsip yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya," kata Findi Lengga dalam Obrolan Akamsi Pro4 RRI Kupang, Senin, 29 Juni 2026.
Menurut Findi, Pah Pinan, yang berarti alam semesta atau jagat raya, memuat berbagai pengetahuan masyarakat Molo tentang hubungan manusia dengan alam, mulai dari membaca langit, batu, tanah, air, pangan lokal, bahasa, motif budaya, siklus hidup hingga berbagai nilai adat dan pemali.
Ia menjelaskan, pengetahuan tersebut selama ini diwariskan secara lisan sehingga dikhawatirkan akan hilang apabila tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan.
Proses penulisan dimulai sejak Januari 2026 melalui kelas menulis kreatif yang dilakukan secara daring setiap pekan karena para peserta berada di berbagai daerah, seperti Molo, Kupang dan Jakarta. Buku tersebut ditargetkan diluncurkan pada Agustus 2026.
Salah satu isi buku mengangkat tradisi membaca tanda-tanda alam, seperti mengenali pertanda hujan melalui posisi bulan dan bintang, hingga kebiasaan masyarakat Molo mengucapkan "pulang, pulang, pulang" ketika terkejut di kawasan mata air sebagai bentuk penghormatan kepada alam.
Selain itu, terdapat pula tulisan mengenai perjuangan perempuan Molo mempertahankan kawasan batu dari aktivitas pertambangan, sejarah pangan lokal, bahasa daerah, hingga siklus kehidupan masyarakat adat.
Findi mengakui tantangan terbesar selama proses penulisan adalah menggali kembali ingatan terhadap berbagai peristiwa yang telah terjadi bertahun-tahun lalu, kemudian menyusunnya menjadi narasi yang utuh dan menarik. Meski demikian, proyek tersebut mendapat dukungan positif dari masyarakat Molo karena dinilai menjadi cara untuk menjaga pengetahuan lokal agar tidak terputus.
"Kami berharap generasi muda tidak malu dengan budaya, bahasa, maupun pangan lokal. Budaya adalah akar yang membuat kita tetap berdiri teguh. Kalau bukan kita yang merawatnya, siapa lagi," kata Findi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....