Moderasi Beragama dan Ekoteologi Kunci Pembangunan Berkelanjutan di NTT
- 18 Jun 2026 22:50 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang: Moderasi beragama dan kepedulian terhadap lingkungan hidup dinilai menjadi dua elemen penting yang harus berjalan beriringan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah tingginya tingkat kerukunan umat beragama serta tantangan lingkungan yang semakin kompleks, seperti kekeringan, krisis air bersih, perubahan iklim, dan ancaman kerusakan ekosistem, diperlukan gerakan bersama yang mampu membangun kesadaran sosial sekaligus ekologis di tengah masyarakat.
Pembangunan daerah, menurut perspektif Kementerian Agama, tidak hanya berfokus pada terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis dan damai, tetapi juga harus mampu mendorong tanggung jawab kolektif dalam menjaga kelestarian alam. Kerukunan sosial dan lingkungan yang sehat dipandang sebagai dua fondasi utama yang saling melengkapi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, Fransiskus Kariyanto, S.Ag., M.Si, dalam wawancara Kupang Pagi (Senin, 15 Juni 2026) yang mengangkat tema “Moderasi Beragama dan Ekoteologi: Gerakan Bersama Membangun NTT”. Ia menjelaskan bahwa moderasi beragama dan ekoteologi bukanlah dua agenda yang berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat dalam membangun manusia yang rukun, maju, cerdas, dan peduli terhadap lingkungan.
Menurut Fransiskus, moderasi beragama mengajarkan nilai toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, cinta tanah air, serta mengedepankan kemaslahatan bersama. Sementara itu, ekoteologi menegaskan bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual setiap umat beragama. Karena itu, sinergi keduanya menjadi sangat relevan bagi masyarakat NTT yang menghadapi berbagai tantangan sosial maupun ekologis.
Ia menambahkan, persoalan lingkungan seperti kekurangan air bersih, kerusakan lahan, hingga abrasi tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak atau satu kelompok agama saja. Peran tokoh agama dinilai sangat strategis karena memiliki pengaruh moral dan spiritual yang kuat di tengah masyarakat. Pesan-pesan pelestarian lingkungan yang disampaikan melalui khotbah, pengajian, sekolah minggu, maupun pendidikan keagamaan diyakini lebih mudah diterima dan diterapkan oleh umat.
Sebagai bentuk implementasi, Kementerian Agama telah menjalankan berbagai program nyata, di antaranya Gerakan Penanaman Sejuta Pohon yang dicanangkan secara nasional dan ditargetkan berlangsung hingga tahun 2029. Selain itu, Kemenag juga mendorong pengembangan sekolah hijau di madrasah dan lembaga pendidikan keagamaan, penanaman pohon di rumah ibadah, kegiatan bersih pantai, serta kolaborasi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), organisasi keagamaan, pramuka, dan pemerintah daerah.
Fransiskus mengajak seluruh masyarakat NTT untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari iman dan ibadah sehari-hari. Ia menekankan pentingnya menjaga kerukunan, menanam pohon, merawat sumber air, mengurangi sampah, dan melestarikan alam sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Dengan semangat kearifan lokal “Mesa Ati” dan “Mesa Mori” yang berarti satu hati dan satu pikiran, ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersatu membangun NTT yang aman, sejahtera, dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....