Hadapi Krisis Air dan Perubahan Iklim, Kemenag NTT Dorong Gerakan Ekoteologi

  • 15 Jun 2026 19:26 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengajak umat beragama menjadi pelopor pelestarian lingkungan di tengah meningkatnya ancaman krisis air dan dampak perubahan iklim. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan program ekoteologi yang dipadukan dengan moderasi beragama sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan di daerah.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama NTT, Fransiskus Kariyanto mengatakan, kondisi geografis NTT membuat daerah ini menghadapi tantangan lingkungan yang tidak ringan. Menurutnya, kesadaran menjaga alam perlu dibangun bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama dan umat beragama.

"NTT merupakan salah satu wilayah yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Beberapa persoalan yang dihadapi antara lain kekurangan air bersih, kemarau, kerusakan lahan, dan abrasi," ujar Kakanwil Kemenag Provinsi NTT, Senin, 15 Juni 2026.

Ia menjelaskan persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Karena itu, Kementerian Agama mendorong keterlibatan seluruh pemeluk agama untuk menjadikan pelestarian lingkungan sebagai gerakan bersama yang berangkat dari nilai-nilai keimanan.

Menurut Fransiskus, tokoh agama memiliki pengaruh moral dan spiritual yang besar di tengah masyarakat. Pesan-pesan pelestarian lingkungan yang disampaikan melalui khotbah, pengajian, sekolah minggu, maupun pendidikan keagamaan diyakini lebih mudah diterima dan diterapkan oleh umat.

"Ekoteologi harus menjadi gerakan bersama agar kesadaran ekologis tidak hanya menjadi isu pemerintah atau isu pendidikan, tetapi menjadi gerakan iman umat beragama di NTT," katanya.

Sebagai bentuk implementasi, Kementerian Agama telah menjalankan berbagai program pelestarian lingkungan, di antaranya gerakan penanaman sejuta pohon, pengembangan sekolah hijau, hingga kegiatan bersih lingkungan dan rumah ibadah. Program tersebut melibatkan madrasah, sekolah keagamaan, penyuluh agama, serta organisasi keagamaan di berbagai daerah.

Fransiskus menilai pelestarian lingkungan memiliki hubungan erat dengan pembangunan daerah. Kerukunan sosial yang dibangun melalui moderasi beragama akan semakin kuat apabila didukung oleh lingkungan yang sehat dan sumber daya alam yang terjaga.

"Masyarakat yang rukun tetapi tidak peduli lingkungan akan menghadapi krisis kehidupan. Sebaliknya, lingkungan yang baik sulit diwujudkan jika masyarakat hidup dalam konflik dan perpecahan," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa langkah kecil seperti menanam pohon, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghemat penggunaan air dapat memberikan dampak besar bagi masa depan daerah. Kesadaran kolektif tersebut diharapkan menjadi warisan bagi generasi mendatang dalam menjaga bumi NTT tetap lestari. (DB)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....