Kemenag NTT Perkuat Moderasi Beragama dan Ekoteologi
- 15 Jun 2026 19:25 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mendorong sinergi moderasi beragama dan ekoteologi sebagai bagian dari upaya mewujudkan pembangunan daerah yang berkelanjutan. Langkah tersebut dinilai penting mengingat NTT merupakan wilayah dengan tingkat kemajemukan agama yang tinggi sekaligus menghadapi berbagai tantangan lingkungan, seperti kekeringan, krisis air bersih, dan dampak perubahan iklim.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama NTT, Fransiskus Kariyanto mengatakan, moderasi beragama dan ekoteologi bukanlah dua agenda yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya saling melengkapi dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, harmonis, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.
"Moderasi beragama dan ekoteologi bukanlah dua agenda yang terpisah atau berdiri sendiri, tetapi saling terkait dan saling memperkuat dalam mewujudkan pembangunan manusia yang rukun, maju, cerdas, dan berkelanjutan," kata Fransiskus dalam Wawancara Kupang Pagi Ini di Pro 1 RRI Kupang, Senin, 15 Juni 2026.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya berfokus pada terciptanya kerukunan sosial. Masyarakat juga perlu memiliki kesadaran ekologis yang kuat karena kerusakan lingkungan pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap kualitas kehidupan masyarakat.
Fransiskus menjelaskan moderasi beragama mengajarkan sikap toleran, menghargai perbedaan, serta mengutamakan kemaslahatan bersama. Sementara itu, ekoteologi menegaskan bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab moral sekaligus spiritual sebagai wujud syukur kepada Tuhan.
Ia menilai tokoh agama memiliki posisi strategis dalam menumbuhkan kepedulian lingkungan di tengah masyarakat. Melalui khotbah, pengajian, sekolah minggu, maupun berbagai kegiatan keagamaan lainnya, pesan-pesan pelestarian lingkungan dapat lebih mudah diterima dan diterapkan oleh umat.
"Ekoteologi harus menjadi gerakan bersama agar kesadaran ekologis tidak hanya menjadi isu pemerintah atau pendidikan, tetapi menjadi gerakan iman umat beragama di NTT," ujarnya. Ia menambahkan seluruh umat beragama perlu bergandengan tangan menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Sebagai bentuk implementasi, Kementerian Agama telah menjalankan berbagai program pelestarian lingkungan, mulai dari gerakan penanaman sejuta pohon, pengembangan sekolah hijau, hingga aksi bersih rumah ibadah. Program-program tersebut juga melibatkan lembaga pendidikan keagamaan, penyuluh agama, organisasi keagamaan, serta berbagai elemen masyarakat.
Fransikus optimistis sinergi antara moderasi beragama dan ekoteologi akan memberikan kontribusi nyata terhadap visi pembangunan berkelanjutan di NTT. Menurutnya, masyarakat yang rukun dan lingkungan yang lestari merupakan fondasi utama dalam mewujudkan NTT yang sejahtera, maju, dan bermartabat.
"Mari kita menjaga bumi NTT sebagai rumah bersama dengan menanam pohon, menjaga sumber air, mengurangi sampah, dan merawat alam. Semua itu merupakan bagian dari iman, ibadah, dan rasa syukur kita kepada Tuhan," katanya, mengakhiri. (DB)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....