Kemendes PDT Dorong Transformasi Desa Berketahanan Iklim

  • 18 Jun 2026 08:33 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Pemerintah melalui Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) terus mendorong transformasi desa berketahanan iklim sebagai langkah strategis menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

Ketua Pokja Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana Kemendes PDT, Ika Puspita Dewi, dalam Wawancara Kupang Pagi Ini, Rabu, 17 Juni 2026 mengatakan Indonesia memiliki lebih dari 75 ribu desa yang sebagian besar berada di wilayah rawan bencana. Karena itu, diperlukan upaya nyata untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di tingkat desa.

"Kita harus mengubah ketidakpastian cuaca menjadi sebuah tindakan kesiapsiagaan demi melindungi anak cucu kita di masa depan," ujar Ika.

Menurutnya, program Desa Berketahanan Iklim dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim secara mandiri. Dengan demikian, desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan keselamatan warganya.

Ika menjelaskan, regulasi penggunaan Dana Desa Tahun 2025 telah memberikan panduan yang jelas bagi pemerintah desa untuk mendukung program ketahanan iklim. Salah satu fokus utamanya adalah pengelolaan lingkungan hidup, termasuk penanganan sampah dan pengurangan risiko bencana sesuai kewenangan desa.

"Pemanfaatan dana desa dapat diarahkan untuk kegiatan yang mendukung ketahanan lingkungan dan kebencanaan, tentu melalui musyawarah bersama masyarakat agar pelaksanaannya transparan dan akuntabel," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penggunaan data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam setiap proses perencanaan pembangunan desa. Data tersebut dinilai menjadi dasar penting dalam menyusun langkah mitigasi yang tepat dan berbasis risiko.

"Gunakan data resmi yang diperoleh dari BMKG sehingga perencanaan bukan hanya spekulasi kita sendiri," ucapnya, tegas.

Selain pembangunan fisik, edukasi kebencanaan juga menjadi bagian penting dalam program ini. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan secara rutin melibatkan pemuda karang taruna, kelompok perempuan, serta berbagai unsur masyarakat lainnya.

Generasi muda dinilai memiliki peran strategis dalam memetakan potensi risiko bencana, menyusun jalur evakuasi, hingga mengembangkan inovasi berbasis lingkungan di wilayah masing-masing.

Lebih lanjut, Ika mengingatkan agar pembangunan infrastruktur desa, seperti jalan dan jembatan, selalu mempertimbangkan aspek keselamatan masyarakat serta kelestarian ekosistem lingkungan.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, Desa Berketahanan Iklim diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan terdepan dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu. (DB)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....