Mutiara Pagi: Kalau Tidak Mau, Jangan Banyak Alasan
- 06 Jun 2026 10:56 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang: Melarikan diri dari sebuah tanggung jawab dan panggilan hidup sering kali menjadi pilihan manusia ketika diperhadapkan pada situasi yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi. Berbagai alasan logis kerap dibangun demi membenarkan tindakan menghindar dari tugas yang telah digariskan. Namun, dalam perspektif iman Kristen, sejauh apa pun seseorang mencoba berlari dan bersembunyi dari rancangan penciptanya, hadirat Tuhan akan selalu mengejar dan menanti jalan pulangnya. Fenomena penolakan dan pelarian inilah yang merefleksikan dinamika hati manusia yang sering kali keras kepala, namun selalu dilingkupi oleh kasih karunia yang tidak pernah menyerah.
Hal tersebut menjadi pokok renungan yang mendalam yang disampaikan oleh Yayang Dewi, S.Th, Penyuluh Agama Kristen pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kupang dalam Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Kupang. Ia mengangkat kisah nabi Yunus sebagai cermin kehidupan rohani umat masa kini. Melalui tema "Kalau Tidak Mau Jangan Banyak Alasan", dengan menekankan sebuah pesan utama: sejauh mana pun Yunus pergi menghindar, Tuhan akan tetap mengejar untuk menyatakan otoritas dan kasih-Nya.
Dalam pemaparannya, Yayang menjelaskan ada empat alasan utama mengapa Yunus menolak pergi ke Niniwe, kota yang diperintahkan Tuhan untuk dituju. Pertama, Niniwe adalah ibu kota bangsa Asyur yang terkenal kejam dan menjadi musuh besar bangsa Israel, sehingga tugas tersebut memaksa Yunus meredam kebencian pribadinya. Kedua, ego dan nasionalisme Yunus bergejolak karena ia merasa bangsanya lebih layak menerima keselamatan dibanding musuhnya. Alasan ketiga dan keempat adalah karena Yunus sangat mengenal hati Tuhan yang pengasih, sehingga ia sengaja memilih melarikan diri ke Tarsis—arah yang berlawanan dari kehendak Tuhan—daripada melihat musuhnya diampuni dan diselamatkan.
"Masalahnya bukan terletak pada tugas yang Tuhan berikan kepada kita yang salah, melainkan hati kita sendiri yang menolak melaksanakan tugas itu dengan berbagai bentuk dan macam alasan yang kita pertimbangkan," ujar Yayang Dewi .
Lebih lanjut, ia menganalogikan pelarian manusia seperti seorang anak kecil yang merajuk lalu berlari menjauh dari orang tuanya. Sang anak mengira orang tuanya tidak peduli, padahal diam-diam diikuti dari belakang demi memastikan keamanannya. Sikap menolak taat ini sering kali membuat hidup manusia semakin merosot ke titik terendah, persis seperti pengalaman Yunus yang terus turun ke dalam kapal, masuk ke ruang bawah, hingga akhirnya terlempar ke dasar laut.
Namun, Yayang mengingatkan bahwa badai kehidupan yang diizinkan terjadi atau teguran dari orang-orang terdekat bukanlah tanda bahwa Tuhan telah meninggalkan umat-Nya. Badai justru merupakan cara Tuhan "berteriak" saat manusia tidak lagi mau mendengarkan suara-Nya, sekaligus menjadi bukti bahwa kasih-Nya berjalan lebih cepat daripada pelarian manusia. Bahkan di dalam tempat yang paling gelap sekalipun, seperti di dalam perut ikan besar yang dialami Yunus, Tuhan telah menyediakan ruang untuk pemulihan dan jalan untuk pulang.
Mengakhiri renungannya, Penyuluh Agama Kristen Kemenag Kabupaten Kupang ini menegaskan bahwa kegagalan manusia tidak akan pernah menghapus rencana besar Tuhan, karena Dia adalah Allah yang selalu memberikan kesempatan kedua. Kisah Yunus bukan sekadar cerita sejarah tentang seorang nabi yang ditelan ikan, melainkan sebuah pesan abadi tentang belas kasihan Tuhan yang melampaui batas-batas keadilan versi manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....