Mutiara Pagi: Retak tapi Tetap Berharga

  • 29 Apr 2026 16:43 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang: Kerapuhan sering kali dipandang sebagai kelemahan yang harus disembunyikan. Namun dalam kehidupan iman, justru di tengah keterbatasan manusia tersimpan nilai yang tidak ternilai. Manusia digambarkan seperti bejana tanah liat—rapuh, mudah retak, dan jauh dari kesempurnaan—tetapi di dalamnya tersimpan “harta” rohani yang berasal dari Tuhan. Pemahaman ini menjadi pengingat bahwa nilai hidup seseorang tidak ditentukan oleh kondisi luarnya, melainkan oleh isi dan makna yang ada di dalam dirinya.

Hal tersebut mengemuka dalam program Mutiara Pagi Kristen Pro 1 RRI Kupang, Minggu (26/4/2026), yang mengangkat tema “Retak Tapi Tetap Berharga”. Narasumber, Yerniaman Laia, S.Th., Penyuluh Agama Kristen pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengajak pendengar untuk merenungkan firman Tuhan dari 2 Korintus 4:7 tentang harta dalam bejana tanah liat.

Dalam pemaparannya, Yerniaman menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya adalah pribadi yang rapuh dan tidak sempurna. Ia mengilustrasikan sebuah guci tua yang retak namun tetap dipertahankan oleh pemiliknya karena masih memiliki nilai dan fungsi. Menurutnya, hal itu mencerminkan kehidupan manusia yang memiliki luka, kegagalan, dan keterbatasan, tetapi tetap berharga di hadapan Tuhan karena di dalamnya terdapat kasih, pengampunan, dan harapan dari Allah.

Lebih lanjut dijelaskan, latar belakang ayat tersebut berasal dari pengalaman Rasul Paulus yang menghadapi berbagai penderitaan, penolakan, dan kelemahan fisik. Namun justru melalui kondisi tersebut, Paulus menunjukkan bahwa kekuatan sejati berasal dari Tuhan, bukan dari manusia. Hal ini menjadi relevan bagi setiap orang yang kerap merasa tidak cukup baik atau tidak layak di hadapan Tuhan.

Yerniaman kemudian menguraikan tiga poin penting. Pertama, manusia tidak perlu malu dengan “retakan” dalam hidupnya. Kelemahan, luka batin, atau kegagalan bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan dibawa kepada Tuhan dengan kerendahan hati. Ia menegaskan bahwa Tuhan justru dekat dengan orang yang patah hati dan remuk jiwanya.

Poin kedua menekankan bahwa isi jauh lebih berharga daripada wadahnya. Penampilan, status sosial, dan kemampuan manusia bersifat sementara, sedangkan “harta” rohani seperti Injil, Roh Kudus, dan pengharapan keselamatan bersifat kekal. Karena itu, meski dalam kondisi terbatas, manusia tetap dapat menjadi saluran berkat bagi sesama.

Sementara itu, poin ketiga menggarisbawahi bahwa melalui kelemahan manusia, kuasa Tuhan dinyatakan. Tuhan sengaja memakai pribadi yang tidak sempurna agar kemuliaan hanya bagi-Nya. Yerniaman menutup perenungan dengan pesan bahwa Tuhan tidak membuang yang retak, melainkan memakai setiap pribadi apa adanya, sehingga melalui “retakan” itulah terang kasih Tuhan dapat bersinar dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....