Mengembalikan Diversifikasi Pangan ke dalam Isi Piring lewat Konten Medsos
- 25 Apr 2026 21:30 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Isu mengembalikan diversifikasi pangan di piring makan kini semakin digaungkan oleh generasi muda, salah satunya melalui peran konten kreator Manik Nur Hidayati yang konsisten mengedukasi masyarakat lewat media sosial. Dalam perbincangan bersama RRI Kupang pada Jumat, 24 April 2026, Manik menekankan topik pangan bukan sekadar soal makan, tetapi menyangkut kesehatan, budaya, hingga ketahanan bangsa.
Perjalanan advokasi Manik ternyata tidak instan dan berawal dari proses panjang sejak beberapa tahun lalu. “Kalau memulai pola makan ini sebenarnya aku sudah mulai dari tahun 2020, tapi untuk menyuarakan di media sosial itu baru sekitar dua tahun terakhir yang intens,” ujarnya, menandai awal konsistensi advokasinya sekitar tahun 2023.
Ia melihat bahwa kebiasaan makan masyarakat saat ini semakin seragam dan menjauh dari kekayaan pangan lokal. Manik juga menekankan pola makan yang terlalu seragam pada nasi dan terigu justru menjauhkan kita dari potensi gizi yang disediakan oleh alam Indonesia.
"Awalnya dari kegelisahanku melihat pola makan kita yang semakin seragam, padahal nenek moyang kita dulu punya makanan khas daerah masing-masing yang sangat beragam," ujar Manik saat berbincang di Pro2 Kupang. Urgensi diversifikasi pangan bukan hanya soal kesehatan individu, tetapi juga berkaitan erat dengan ketahanan pangan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Dengan mengonsumsi pangan lokal seperti jagung di NTT atau sagu di daerah timur lainnya, masyarakat sebenarnya sedang membangun benteng kedaulatan pangan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan fluktuasi harga energi. "Pangan lokal itu lebih adaptif pada perubahan iklim karena secara turun-temurun sudah teruji bisa tumbuh subur di wilayah kita sendiri," jelasnya lebih lanjut.
Salah satu tantangan terbesar bagi generasi muda adalah persepsi bahwa mengolah pangan lokal itu rumit dan tidak praktis dibandingkan makanan cepat saji. Namun, Manik membagikan tips bahwa kunci keberhasilannya ada pada kreativitas dan manajemen waktu, seperti teknik merendam kacang-kacangan untuk mempercepat proses masak sekaligus meningkatkan penyerapan gizi oleh tubuh.
"Untuk mendapatkan gizi yang lebih baik, proses itu memang dibutuhkan; kita bisa memasak dalam jumlah banyak lalu menyimpannya di kulkas agar lebih praktis," kata Manik memberi solusi. Sementara fenomena "jual sayur untuk beli mi instan" di kalangan petani menjadi potret menyedihkan yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh makanan ultra-proses di akar rumput. Manik mengajak masyarakat untuk mengubah mindset tersebut dengan mulai mencintai 'real food' yang jauh lebih padat nutrisi dan mampu menggerakkan roda ekonomi petani lokal di pasar tradisional.
"Tugas kita bersama adalah memberikan penjelasan bahwa makanan lokal itu keren dan sangat bergizi, tidak kalah dengan makanan kemasan yang dianggap modern," katanya. Menariknya, diversifikasi pangan tidak hanya terbatas pada sumber karbohidrat dan sayuran, tetapi juga mencakup sumber protein hewani maupun nabati yang khas di setiap daerah.
Ia mencontohkan di Sumatera terdapat ikan sungai yang unik, sementara di NTT terdapat tradisi pengasapan daging dan pemanfaatan kacang tunggak yang merupakan kekayaan protein lokal yang patut dibanggakan. "Semua sumber pangan itu punya pasangannya masing-masing untuk saling melengkapi gizi, jadi tidak ada satu jenis bahan pangan yang kandungan gizinya sempurna sendiri," ujar Manik.
Pemerintah memang telah mengeluarkan aturan terkait penganekaragaman konsumsi pangan, namun gerakan akar rumput seperti komunitas di tiap daerah tetap menjadi ujung tombak yang paling efektif. Inovasi anak muda yang mengubah sorgum menjadi tepung untuk roti dan cookies membuktikan bahwa pangan lokal bisa tetap relevan dan tampil modern di mata generasi.
"Keberagaman ini adalah sumber kekuatan; kita tidak perlu memberikan standar ketahanan pangan yang sama dari Sabang sampai Merauke," ungkapnya mengenai visi kemandirian pangan. Sebagai penutup, ia berharap mengembalikan diversifikasi pangan ke isi piring bukanlah sebuah perlombaan lari cepat, melainkan perjalanan maraton yang dilakukan secara konsisten dan bertahap.
Mengembalikan diversifikasi pangan itu tidak perlu lari sprint, kita maraton saja pelan-pelan karena keberagaman pangan adalah kekuatan untuk mencapai kedaulatan," kata Manik menegaskan. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....