Waspada Fenomena "Godzilla El Nino", Kabupaten Kupang Siapkan Strategi Mitigasi

  • 25 Apr 2026 18:58 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya Kabupaten Kupang, kini tengah bersiap menghadapi ancaman serius dari fenomena alam yang dijuluki sebagai "Godzilla El Nino". Fenomena ini merupakan kondisi Super El Nino dengan kenaikan suhu permukaan laut di Pasifik mencapai 2,5 derajat Celsius, yang diprediksi membawa dampak kekeringan ekstrem lebih cepat dari siklus biasanya.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Kupang, Elfrid Saneh, dalam Program Kentongan di Pro 1 RRI Kupang Selasa, 14 April 2026 mengatakan, berdasarkan pengamatan di lapangan, meskipun hujan sesekali masih turun dengan intensitas kecil, panas matahari yang terik membuat air cepat menguap dan tanah kembali kering. Siklus sepuluh tahunan ini mirip dengan kondisi kekeringan hebat pada tahun 2015, di mana penurunan curah hujan yang signifikan berpotensi menyebabkan gagal panen, terutama bagi petani yang mengandalkan sistem tadah hujan.

Menyikapi ancaman tersebut, FPRB bersama Pemerintah Kabupaten Kupang telah melakukan pemetaan wilayah rentan, terutama desa-desa yang berada di dataran tinggi dengan ketinggian di atas 600 meter di atas permukaan laut. Sekitar 60 persen wilayah Kabupaten Kupang masuk dalam kategori risiko tinggi karena kondisi topografi dan jenis tanah yang sulit menampung air. Selain itu, fenomena "double bencana" menghantui daerah aliran sungai; wilayah yang biasanya menjadi langganan banjir saat musim hujan justru menjadi daerah yang paling cepat mengalami kekeringan karena air langsung mengalir ke laut tanpa terserap ke tanah.

Sebagai langkah mitigasi, Elfrid menekankan pentingnya aktivasi Rencana Kontinjensi (Renkon) kekeringan yang telah disusun bersama para pemangku kepentingan. Pemerintah juga mendorong gerakan hemat air dan penggunaan sistem pertanian tahan iklim. Para petani disarankan untuk mulai beralih ke tanaman palawija yang tahan kering seperti sorgum, kacang hijau, dan ubi kayu untuk musim tanam kedua. Selain itu, sistem pelaporan satu arah melalui aparat desa dan camat diperkuat agar respons bantuan air bersih dapat dilakukan paling lambat 1x24 jam setelah laporan diterima.

Selain sektor pertanian, ancaman lain yang tidak kalah serius adalah meningkatnya risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Kabupaten Kupang tercatat sebagai wilayah dengan titik panas (hotspot) terbanyak kedua di NTT. Oleh karena itu, FPRB sedang menggagas rencana kontinjensi khusus untuk menangani potensi kebakaran lahan yang sering dipicu oleh kebiasaan masyarakat membersihkan kebun dengan cara membakar. Penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana) menjadi garda terdepan dalam memantau debit air sumur dan potensi titik api secara berkelanjutan di tingkat dusun.

Kolaborasi Pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan komunitas terus diperkuat untuk menghadapi dampak "Godzilla El Nino" ini. Elfrid menyebutkan bahwa beberapa pihak swasta dan perbankan telah mulai terlibat melalui program CSR pembangunan sumur bor di titik-titik krisis air. Di sisi lain, tokoh agama juga diharapkan menjadi corong informasi melalui mimbar gereja dan masjid untuk menyebarluaskan edukasi mitigasi kepada masyarakat yang mungkin tidak memiliki akses terhadap media sosial atau grup informasi digital.

Elfrid pun mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada dan disiplin dalam melakukan mitigasi non-struktural. Komitmen bersama untuk menjaga daerah tangkapan air, menghentikan pembalakan liar, dan melakukan pola hidup hemat air menjadi kunci agar Kabupaten Kupang bisa melewati masa sulit ini. Dengan perencanaan yang matang dan peta jalan yang sudah tersedia, diharapkan dampak buruk dari fenomena panas ekstrem ini dapat diminimalisir demi keberlangsungan hidup dan ketahanan pangan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....