Prof Jonatan: Sumur Bor Bukan Solusi Utama Hadapi Kekeringan di NTT
- 14 Apr 2026 04:53 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino, penggunaan sumur bor kerap dianggap sebagai solusi cepat bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, pandangan ini diluruskan oleh Prof. Dr. Jonatan Ebet Koehuan, S.T.P., M.P, Guru Besar Ilmu Teknik Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang dalam Wawancara Kupang Pagi Ini di Pro 1 RRI Kupang, Senin, 13 April 2026.
Prof Jonatan mengatakan bahwa sumur bor bukanlah solusi utama, melainkan hanya langkah tambahan dalam kondisi darurat. Menurutnya, prioritas utama dalam pengelolaan air seharusnya tetap berfokus pada pemanfaatan air permukaan, seperti sungai, embung, dan waduk.
“Prioritasnya sebenarnya pada air permukaan dulu sebelum kita memutuskan menambah dengan air tanah,” ucapnya. Ketergantungan berlebihan pada air tanah tanpa pengelolaan yang bijak justru berpotensi menimbulkan dampak serius bagi lingkungan.
Eksploitasi yang tidak terkendali dapat memicu penurunan muka tanah serta mengeringkan sumber-sumber air alami yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat. Prof. Jonathan juga mengingatkan bahwa penggunaan air tanah harus diimbangi dengan upaya pelestarian lingkungan.
Tanpa itu, pengambilan air secara terus-menerus hanya akan memperparah kondisi kekeringan. “Jangan sampai kita hanya mengambil air tanpa menjaga kelestariannya karena nanti akan bertambah kering,” katanya.
Upaya konservasi seperti penanaman pohon, perlindungan daerah tangkapan air, serta pemulihan ekosistem menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan. Melalui proses alami seperti infiltrasi, cadangan air tanah dapat terisi kembali dan tetap terjaga dalam jangka panjang.
Lebih jauh, Prof Jonatan mengatakan, integrasi antara pengelolaan air permukaan dan penggunaan sumur bor secara terkontrol dinilai menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan di daerah rawan kekeringan seperti NTT. Sinergi ini diharapkan mampu menjamin ketersediaan air bagi sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Tak kalah penting, Prof Jonatan mengingatkan terkait kearifan lokal dalam menjaga mata air juga perlu dihidupkan kembali. Praktik-praktik tradisional yang selaras dengan alam dapat menjadi benteng pertahanan utama dalam menghadapi krisis air.
Dengan pengelolaan yang bijak dan berkelanjutan, masyarakat NTT diharapkan mampu menghadapi tantangan perubahan iklim tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan demi generasi mendatang. (DB)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....