Rangkaian Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kupang Sarat Makna Harmoni

  • 17 Mar 2026 11:28 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang: Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kota Kupang tahun ini kembali diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan yang tidak hanya berfokus pada ritual keagamaan, tetapi juga kegiatan sosial kemasyarakatan. Momentum Nyepi dimaknai sebagai refleksi untuk membangun keseimbangan, harmoni, dan toleransi antarumat manusia sesuai ajaran Hindu.

Dalam pelaksanaannya, rangkaian Nyepi mengusung tema Wasudewa Kutumbakan, yang berarti satu bumi, satu keluarga, sebagai simbol persatuan dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai tersebut diwujudkan melalui kegiatan yang mengedepankan dharma agama dan dharma negara.

Hal tersebut disampaikan oleh Wayan Darmawa, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, dalam wawancara program Kupang Pagi di Pro 1 Radio Republik Indonesia Kupang, 13 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa secara umum rangkaian Nyepi terdiri dari kegiatan sosial dan ritual keagamaan.

Kegiatan sosial diawali dengan aksi berderma seperti donor darah yang dipusatkan di Pura Oebananta Kupang bekerja sama dengan PMI. Selain itu, terdapat kegiatan Saka Boga Sewanam berupa pembagian takjil kepada umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadan sebagai bentuk toleransi dan kepedulian antarumat beragama.

Setelah kegiatan sosial, rangkaian dilanjutkan dengan ritual keagamaan yang meliputi Melasti, Tawur Agung Kesanga, dan Nyepi. Upacara Melasti juga telah berlangsung pada 16 Maret 2026 di kawasan Pura Oebananta, sedangkan Tawur Agung Kesanga dilaksanakan pada 18 Maret 2026 di Jalan El Tari depan Kantor Gubernur NTT.

Puncak perayaan Nyepi berlangsung selama 24 jam mulai 19 hingga 20 Maret 2026, di mana umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian sebagai bentuk introspeksi diri. Setelah itu, rangkaian ditutup dengan Ngembak Geni yang diisi dengan kegiatan simakrama atau silaturahmi serta Dharmasanti.

Wayan Darmawa menegaskan bahwa secara prinsip, pelaksanaan Nyepi di Kupang memiliki esensi yang sama dengan daerah lain di Indonesia, termasuk Bali, karena berlandaskan ajaran kitab suci Weda dan konsep Tri Hita Karana. Perbedaan hanya terletak pada penyesuaian dengan kondisi daerah atau desa kala patra, sehingga pelaksanaannya lebih fleksibel tanpa mengurangi makna spiritualnya.

Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat lintas agama yang turut membantu kelancaran seluruh rangkaian kegiatan Nyepi. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi bukti kuatnya kerukunan antarumat beragama di Nusa Tenggara Timur.

Melalui perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini, umat Hindu diharapkan semakin memperkuat nilai introspeksi, menjaga keharmonisan dengan sesama dan alam, serta terus berkontribusi dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai dan toleran di Kota Kupang dan NTT secara umum.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....