Harmoni Nyepi di Kupang, Umat Hindu Gaungkan Semangat Persaudaraan

  • 13 Mar 2026 09:06 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Umat Hindu di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, menggelar rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan. Tahun ini, perayaan Nyepi mengusung tema “Wasudewa Kutumbakan”, yang bermakna bahwa seluruh umat manusia di dunia adalah satu keluarga besar yang hidup dalam persaudaraan universal.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) NTT, Wayan Darmawa dalam Wawancara Kupang Pagi Ini di Pro 1 RRI Kupang, Jumat 13 Maret 2026 menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Nyepi tidak hanya berfokus pada ritual keagamaan, tetapi juga diisi dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Di antaranya kegiatan donor darah di Pura Agung Giri Kertabuana serta pembagian takjil kepada umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Aksi berbagi takjil tersebut dilaksanakan secara serentak di beberapa wilayah, termasuk Kota Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Utara. “Kegiatan ini menjadi wujud nyata upaya mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkuat nilai toleransi antarumat beragama yang telah terbangun baik di Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Menurut Wayan, kegiatan berbagi ini merupakan bagian dari implementasi nilai Dharma Negara dan ajaran Tri Hita Karana, yang menekankan pentingnya keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan lingkungan alam. Memasuki rangkaian ritual keagamaan, umat Hindu akan melaksanakan upacara Melasti pada 16 Maret mendatang yang dipusatkan di sekitar Pura Ebanata.

“Ritual ini bertujuan untuk menyucikan diri dengan mengambil tirta suci dari air laut sebagai simbol pembersihan rohani sebelum memasuki Hari Suci Nyepi,” kata Wayan. Selanjutnya, ritual Tawur Agung Kesanga akan digelar pada 18 Maret di perempatan Kantor Gubernur NTT.

Upacara ini merupakan bentuk persembahan suci yang bertujuan menyeimbangkan kekuatan alam semesta agar kehidupan masyarakat tetap harmonis serta terhindar dari berbagai bencana. Puncak Hari Suci Nyepi akan berlangsung selama 24 jam, mulai pukul 06.00 WITA pada 19 Maret hingga 06.00 WITA keesokan harinya.

Pada masa ini, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan. Selama waktu tersebut umat Hindu fokus melakukan introspeksi diri di rumah masing-masing.

Wayan menjelaskan, pelaksanaan Nyepi di Nusa Tenggara Timur memiliki sedikit perbedaan dengan di Bali. Jika di Bali pembatasan aktivitas dilakukan secara kolektif di tingkat wilayah, di NTT pelaksanaannya lebih bersifat personal atau berbasis rumah tangga, mengingat umat Hindu tersebar di berbagai kelurahan dengan latar belakang masyarakat yang heterogen.

Dia juga mengimbau masyarakat sekitar untuk memahami apabila selama masa penyepian umat Hindu tidak merespons komunikasi atau kunjungan. Hal tersebut karena umat sedang menjalankan refleksi spiritual secara mendalam.

Ia turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota Kupang, serta unsur TNI dan Polri yang telah memberikan dukungan dan pengamanan sehingga seluruh rangkaian kegiatan Nyepi dapat berjalan dengan aman dan lancar. Rangkaian perayaan Nyepi akan ditutup dengan Ngembak Geni, yakni tradisi Simakrama atau silaturahmi bersama keluarga dan kerabat sebagai simbol kemenangan dalam mengendalikan diri setelah menjalani penyepian.

Melalui perayaan Nyepi yang penuh makna ini, umat Hindu berharap kehidupan masyarakat di Nusa Tenggara Timur semakin harmonis, toleran, serta diberkahi kedamaian dalam menghadapi berbagai dinamika pembangunan di masa depan. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....