Gerakan Tanam Padi Serentak, Perkuat Swasembada Pangan

  • 17 Feb 2026 21:12 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Sektor pertanian memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kedaulatan negara, terutama dalam upaya memperkuat ketahanan pangan. Pangan merupakan kebutuhan pokok yang menentukan kelangsungan hidup masyarakat, sehingga kemampuan suatu negara dalam memproduksi dan mengelola pangan sendiri menjadi ukuran penting kekuatan dan kemandiriannya.

Salah satu upaya implementasi ketahanan pangan tersebut yakni dilaksanakan Gerakan Tanam Padi Serentak se-Provinsi Nusa Tenggara Timur Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur – Kabupaten Kupang, Senin, 16 Februari 2026.

Hadir pada kesempatan tersebut diantaranya Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, Ketua DPRD NTT, Emi Nomleni, Bupati Kupang, Yosef Lede, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda, Para Perwakilan Kementerian Pertanian RI, TNI/POLRI, Para Penyuluh Pertanian serta Kelompok Tani dan juga Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri Semuel Bale, bersama para mahasiswa.

Gubernur NTT Melki Laka Lena mengungkapkan Gerakan Tanam Padi Serentak tersebut sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah, kelompok tani, penyuluh pertanian, serta semua pihak yang terlibat dalam mendukung sektor pertanian sebagai fondasi utama perekonomian masyarakat. Ia mengatakan gerakan tanam serentak ini menjadi momentum penting untuk mendorong semangat petani dalam meningkatkan produksi pangan bagi masyarakat.

"Hari ini di bawah langit Desa Manusak Kabupaten Kupang kita menanam padi secara serentak untuk mendukung swasembada berkelanjutan di Provinsi NTT dan Republik Indonesia. Saya yakin kita semua ingin agar kita bisa swasembada pangan,” ungkap Gubernur Melkiades.

Menurut Melki melalui gerakan tanam serentak ini juga, bisa memuliakan para petani. Sebab, petani adalah para pejuang-pejuang yang memberikan dampak langsung bagi keberlangsungan hidup seluruh masyarakat, dan menikmati berbagai jenis menu di meja makan.

Melihat hal tersebut Melkiades menekankan kepada semua pihak untuk bisa dimaknai bersama bahwa petani adalah pahlawan pangan bagi seluruh warga negara. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menggambarkan progres capaian produksi gabah kering giling (GKG) di NTT yang hampir mencapai 1 juta ton di tahun 2025.

Ia merincikan bahwa sejak tahun 2025 produksi GKG itu hampir 1 juta ton, dengan angka 968.324 ton GKG. Produksi ini meningkat sebesar 260.532 ton GKG atau 36,81% dari tahun sebelumnya. Selanjutnya produksi beras Tahun 2025 sebesar 567.178 Ton mengalami peningkatan sebesar 152.602 Ton (35,38%) jika dibandingkan dengan Tahun 2024 sebesar 414.576 Ton.

Ia mengungkapkan peningkatan produksi beras tahun 2025 turut berdampak positif bagi peningkatan penyerapan beras oleh perum Bulog di NTT sebanyak 6.056 ton.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur juga memberikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian RI yang senantiasa menaruh perhatian maksimal terhadap kebutuhan para petani di daerah termasuk Nusa Tenggara Timur.

”Terima kasih kepada Menteri Pertanian Bapak Amran Sulaiman yang berkomitmen untuk mendukung pembangunan sektor pertanian di Nusa Tenggara Timur. Saya bersama Bupati/Walikota sudah 3 kali bertemu beliau dan semua usulan, permintaan dan bantuan itu diberikan secara maksimal mulai dari alsintan, traktor, pompa air, hingga bibit dan pupuk," ujarnya.

Bantuan ini membuktikan bahwa Kementerian Pertanian telah menjalankan dengan baik apa yang menjadi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma juga mendorong strategi adaptasi sektor pertanian tidak saja hanya dengan komoditi padi melainkan juga dengan produksi sorgum atau jagung. Hal tersebut disampaikan beliau saat memberi arahan kepada Bupati Sabu Raijua dan jajaran.

Ia mengemukakan bahwa di Kabupaten Sabu Raijua memiliki potensi sorgum dan jagung. Oleh sebab itu Ia menekankan untuk pengembangan pertanian bukan hanya pada padi, tetapi komoditi-komoditi yang sesuai dengan potensi di daerah masing-masing. "Misalnya Sabu ini daerah yang cukup kering dan di situ sorgum akan tumbuh dengan bagus, maka kita bisa meningkatkan produksi sorgum dan jagung" ujarnya.

Johni menegaskan bahwa pengelolaan pertanian jangan terfokus pada beras, tetapi sorgum dan jagung juga perlu dimanfaatkan. Melalui ketersediaan lahan bisa ditanami sebanyak mungkin terkait hasil olahan tersebut sehingga ini akan menjadi substitusi dari beras. Hal tersebut disampaikan Wagub mengingat sorgum dan jagung memiliki daya tahan tinggi di lahan kering dan dapat menjadi substitusi beras yang efektif bagi masyarakat lokal.

Bupati Kupang, Yosef Lede menargetkan produksi padi tahun 2026 menjadi 100.000 ton. ”Kita ingin tahun ini kita bisa produksi sampai 100.000 ton dibandingkan tahun lalu sebanyak 87.000 ton,” kata Yos.

Menurut Yos, upaya mekanisasi dan sistem brigade alsintan sangat penting. Sebagai salah satu strategi yang diterapkan mencakup penggunaan sistem "brigade" untuk alat mesin pertanian (alsintan), program cetak sawah rakyat, dan optimalisasi lahan tadah hujan. Selain itu, pemerintah Kabupaten Kupang juga tengah menyiapkan regulasi untuk pembentukan BUMD Agrobisnis guna menjamin stabilitas harga hasil panen petani.

Inisiatif ini juga dipersiapkan untuk memastikan seluruh kebutuhan pangan berasal dari hasil produksi petani lokal di Kabupaten Kupang. Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Joaz Bily Oemboe Wanda melaporkan Pemerintah Provinsi NTT pada Tahun 2026 menargetkan peningkatan luas tanam padi sebesar 7,90% (273.800 ha) dari tahun 2025 seluas 253.700 ha dengan target produksi padi sebesar 1.186.456 Ton GKG dan produksi beras 694.944 Ton.

Hal tersebut didasarkan untuk memenuhi rata-rata kebutuhan beras NTT di kisaran 650.000 ton/tahun. Ia juga menjelaskan capaian Pemerintah Provinsi NTT yang meraih Pin Penghargaan Swasembada Pangan Nasional dari Kementerian Pertanian RI pada Januari 2026 atas peningkatan signifikan produksi padi.

”Untuk pencapaian produksi tersebut, oleh Kementerian Pertanian memberikan Pin Swasembada bagi 5 (lima) provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, NTT, Banten dan Papua Selatan. Kami juga memberi apresiasi kepada 3 (tiga) Kabupaten dengan produksi padi tertinggi di NTT yaitu Manggarai Barat, Kupang dan Sumba Timur,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....