Pengembangan Bioenergi Lontar di NTT Hadapi Tantangan Teknis

  • 11 Feb 2026 14:24 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang - Pengembangan bioenergi berbasis pohon lontar di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai memiliki potensi besar, namun masih menghadapi berbagai hambatan teknis dan sosial yang kompleks. Hal ini disampaikan Ir. Dominggus G.H. Adoe, S.T., M.Eng, Kepala Bengkel Teknik Mesin Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana (Undana) dalam Wawancara Kupang Pagi Ini, Selasa, 10 Februari 2026.

Pada kesempatan tersebut, pria yang disapa Doddy ini menyoroti tantangan nyata dalam implementasi teknologi energi terbarukan agar dapat dinikmati masyarakat secara merata, terutama di wilayah pelosok. “Salah satu tantangan teknis utama adalah kita butuh air. Kita tahu sendiri di NTT terutama Pulau Timor tidak semua lokasi punya potensi air yang berlimpah, sementara ketika kita berbicara pemanfaatan lontar sebagai biogas atau didestilasi menjadi bioetanol itu kita butuh air,” katanya.

Selain itu, perbedaan komposisi buah lontar di tiap wilayah geografis menyebabkan variasi hasil produksi energi, baik pada bioetanol maupun biogas. Doddy menjelaskan, kondisi tersebut berpengaruh terhadap jumlah gas metana yang dihasilkan melalui sistem reaktor biogas, sehingga membutuhkan penyesuaian teknis berdasarkan karakter bahan baku di masing-masing daerah.

Ia juga menyoroti pola pertumbuhan lontar yang cenderung sporadis dan belum dibudidayakan secara sistematis. Hal ini dinilai menyulitkan upaya untuk menjamin kontinuitas pasokan bahan baku jika pengembangan dilakukan dalam skala lebih besar dan profesional.

Tantangan lain yang dinilai cukup berat adalah kesiapan sumber daya manusia di tingkat pedesaan dalam memahami dan mengoperasikan teknologi energi terbarukan. Kurangnya pemahaman teknis membuat sebagian peralatan yang telah diberikan kepada masyarakat tidak terawat dan akhirnya tidak berfungsi maksimal.

Dari sisi budaya, narasumber menyebut masyarakat sering merasa enggan atau kesulitan untuk rutin memberikan “makan” berupa bahan baku organik ke dalam reaktor biogas setiap hari. “Kebiasaan sebagian peternak yang masih melepaskan ternak secara liar tanpa kandang juga menjadi hambatan dalam pengumpulan kotoran ternak sebagai bahan utama produksi gas metana,” tambahnya.

Kondisi geografis NTT sebagai provinsi kepulauan juga berdampak pada tingginya biaya distribusi peralatan dan mobilisasi tenaga ahli ke daerah terpencil. Keterbatasan infrastruktur transportasi sering menyebabkan keterlambatan pendampingan teknis ketika terjadi gangguan atau kerusakan pada reaktor biogas maupun mesin pengolah bioetanol.

Selain itu, belum adanya regulasi daerah yang secara khusus mengatur serta memberikan insentif bagi pengembangan bioenergi lokal membuat sebagian pihak masih ragu untuk berinvestasi. Doddy pun mendorong sinergi pemerintah daerah dan lembaga pendidikan agar inovasi hasil riset kampus tidak berhenti pada tahap uji coba.

Inovasi bioenergi di NTT, menurutnya, harus mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan kearifan lokal serta fungsi sosial ekonomi tradisional agar dapat diterima masyarakat. Ia juga mengajak generasi muda untuk terus berinovasi demi mewujudkan kedaulatan energi yang mandiri dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....