Bioenergi Lontar, Solusi Perkuat Ketahanan Energi Lokal NTT

  • 11 Feb 2026 08:26 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Ir. Dominggus G.H. Adoe, S.T., M.Eng, Kepala Bengkel Teknik Mesin Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana (Undana) dalam Wawancara Kupang Pagi Ini, Selasa (10/2/2026) menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang selama ini dinilai mahal dan sulit didistribusikan, terutama di wilayah kepulauan seperti NTT. Menurutnya, kondisi geografis NTT sebagai provinsi kepulauan membuat biaya elektrifikasi menjadi sangat tinggi. 

Dampaknya, masih banyak desa terpencil yang belum menikmati layanan listrik secara maksimal. 

“Potensi energi terbarukan di NTT ini sangat banyak, ada matahari, energi angin, biomassa dari pertanian dan peternakan, biogas dan biofuel. Karena itu, pemanfaatan energi berbasis sumber daya lokal harus segera dipercepat,” ujarnya.

Salah satu sumber energi lokal yang dinilai sangat potensial adalah pohon lontar, yang populasinya disebut mencapai sekitar lima juta pohon di seluruh wilayah NTT. Lontar juga dikenal sebagai tanaman yang sangat tangguh di tengah iklim kering ekstrem. 

“Dari 2012 kami meneliti tentang Lontar ini, dan 2014/2015 waktu presentasi di Jakarta kami didapuk menjadi pemateri terbaik untuk transisi energi,” ujarnya bangga. Dominggus menjelaskan, tim peneliti dari Universitas Nusa Cendana (Undana) telah berhasil mengembangkan inovasi bioetanol dengan memanfaatkan daging buah lontar (mesokarp kuning) sebagai bahan baku utama.

Menariknya, bahan baku yang digunakan berasal dari buah lontar matang yang selama ini lebih banyak terbuang atau hanya dijadikan pakan ternak, sehingga tidak mengganggu kebutuhan pangan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan, bioetanol dari lontar mampu menghasilkan bahan bakar nabati berkualitas tinggi yang ramah lingkungan dan minim emisi karbon.

Uji coba pada kendaraan bermotor menunjukkan bahwa bioetanol murni dari lontar mampu memberikan performa pembakaran yang lebih bersih dibandingkan bahan bakar konvensional. “Kita sudah uji coba di lingkungan kampus Undana pada kendaraan bermotor dan itu hasilnya polusinya zero emmision dan bahan bakarnya bersih,“ ujarnya.

Tak hanya itu, sisa ampas hasil pengolahan lontar juga masih dapat dimanfaatkan. Ampas tersebut bisa dikonversi menjadi biogas, yang kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik melalui mesin genset di pemukiman warga.

“Artinya, satu bahan baku bisa menghasilkan dua sumber energi sekaligus,” kata Dominggus. Dominggus menilai, bioenergi lontar dapat menjadi salah satu solusi strategis untuk mewujudkan ketahanan energi lokal di NTT secara berkelanjutan. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....