Ketahanan Pangan NTT Bertumpu pada Kekuatan Komoditas Lokal

  • 07 Jun 2026 18:08 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang - Pangan lokal menjadi pilar utama dalam membangun kemandirian masyarakat, khususnya ketahanan pangan. Pemanfaatan komoditas seperti jagung, sorgum, Jawawut, dan umbi-umbian dinilai menjadi solusi konkret untuk mewujudkan kedaulatan pangan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut pegiat pelestari pangan lokal, Yohanes Efremi Ngabur dalam Obrolan Akamsi RRI Pro 4 Kupang, Selasa 2 Juni 2026, esensi dari kedaulatan pangan adalah ketika unit terkecil masyarakat tidak lagi menggantungkan kebutuhan isi meja makannya pada intervensi kebijakan atau pasokan dari luar sistem mereka sendiri. "Sebuah kelompok besar baru bisa dikatakan daulat secara pangan ketika keluarga-keluarga di dalamnya sudah mandiri. Kita tidak perlu cemas dengan fluktuasi harga beras di pasar karena di pekarangan dan lahan kita sendiri sudah tersedia cadangan pangan alternatif yang melimpah," ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu tantangan terbesar sektor pertanian NTT saat ini adalah rusaknya kalender musim akibat dampak perubahan iklim. Kondisi cuaca yang tidak menentu kerap membuat para petani konvensional kesulitan menentukan waktu tanam yang tepat.

Sebagai solusinya, pendiri komunitas Leptani Bajo di Labuan Bajo ini mengajak masyarakat untuk menggali kembali kearifan lokal (local knowledge) yang diwariskan oleh leluhur. Pola bertani konvensional masa lalu terbukti adaptif terhadap lingkungan karena meniru prinsip kerja ekosistem hutan, seperti rotasi masa istirahat lahan tanpa melalui metode pembakaran lahan yang merusak struktur tanah.

"Tanaman lokal kita seperti jagung atau umbi-umbian itu sangat tangguh. Mereka tidak membutuhkan pasokan air yang masif di fase generatif serta minim intervensi pupuk kimia buatan. Tanah NTT ini pada dasarnya adalah tanah surga untuk jenis komoditas tersebut," jelasnya.

Selain persoalan iklim, tantangan pelestarian juga berbenturan dengan pergeseran pola konsumsi masyarakat modern, Yohanes Efremi Ngabur menyoroti adanya konstruksi nilai keliru di dalam lingkungan keluarga yang kerap memosisikan beras atau nasi sebagai simbol strata sosial primer, sementara ubi dan jagung hanya dianggap sebagai pangan selingan atau simbol keterbelakangan.

"Pola pikir ini yang harus dibenahi sejak dini dari dalam rumah. Kalau anak-anak sudah kenyang mengonsumsi ubi rebus atau jagung bakar, orang tua tidak perlu memaksakan mereka untuk harus makan nasi lagi agar dibilang pintar. Edukasi nutrisi dari keluarga memegang peranan krusial," tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan perlunya sentuhan inovasi kreatif agar pangan khas Indonesia Timur ini bisa diterima oleh generasi milenial maupun generasi Alpha. Ia mencontohkan pangan tradisional seperti lovuk (olahan jagung sejenis jagung bose) yang ternyata disukai anak-anak saat disajikan secara baik.

Ia berharap pangan lokal dapat diolah secara masif dan tersedia kapan saja di warung-warung makan, bukan sekadar menjadi menu 'artisan' yang hanya muncul setahun sekali pada saat perayaan festival kebudayaan tertentu. Selain itu, ia menyatakan optimismenya terhadap masa depan pangan lokal NTT, karena saat ini, kesadaran kritis anak-anak muda di pelosok daerah kian bertumbuh untuk mulai membenahi sistem, mengkritisi kebijakan pangan yang mengisolasi komoditas lokal, serta aktif kembali turun ke tanah untuk menanam.

"Menanam itu harus dijadikan sebuah lifestyle (gaya hidup). Menghadapi situasi global ini, mari kita kembali ke akar sejarah kita. Kita punya kekuatan besar untuk mandiri, mulailah menanam dari apa yang bisa tumbuh di sekitar kita sekarang," pungkasnya, mengakhiri. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....