Amparan Tatak Sebagai Branding Baru Kuliner Kota Samarinda

  • 18 Nov 2025 17:44 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Penetapan Amparan Tatak sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) pada 10 Oktober 2025 lalu, membuka peluang baru bagi kuliner tradisional Samarinda. Pemerintah daerah dan komunitas mulai mendorong kue berbahan pisang talas itu naik kelas dan menjadi branding baru kota Samarinda.

Hal ini terlihat dalam diskusi bertajuk "Amparan Tatak dalam Obrolan, Workshop Kilat, dan Mukbang" yang digelar komunitas Sumbu Tengah di sebuah hotel di Samarinda pada Selasa (18/11/2025).

Dalam diskusi itu, sejarawan sekaligus penulis naskah akademik usulan WBTb, Muhammad Sarip mengatakan, pengajuan amparan tatak sebagai warisan budaya berangkat dari kekhawatiran jika kuliner ini mulai kehilangan tempat.

Pasalnya, ia melihat penjualnya semakin sedikit dan hanya muncul saat Ramadan. Padahal, kue ini sudah eksis lebih dari 50 tahun di Kota Tepian.

"Seperti amparan tatak yang dibikin oleh Maskota di Samarinda Seberang. Mereka merekrut orang-orang Banjar yang tinggal di Samarinda Seberang, kemudian kue itu dijajakan ke Samarinda Kota dengan menumpang kapal klotok untuk menyeberang. Dijajakan berkeliling dari rumah ke rumah," ujarnya.

Kurang lebih satu tahun berjibaku dengan riset, presentasi, dan review dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kaltim-Kaltara, akhirnya usaha itu pun membuahkan hasil. Amparan tatak Samarinda resmi dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda.

Namun, Sarip menegaskan, status tersebut berbeda dengan pemberian hak paten. Tujuannya adalah untuk mengakui keterampilan Samarinda dalam membuat amparan tatak secara tradisional.

Menurut Sarip, meski pada umumnya amparan tatak bisa ditemukan di sejumlah wilayah Kalimantan, tetapi amparan tatak Samarinda memiliki ciri khas tersendiri.

"Beda penggunaan bahan bakunya. Kita menggunakan pisang talas, bukan pisang mauli atau pisang sanggar. Warnanya lebih cerah, dan lebih awet karena durasi pengukusannya yang lama," kata dia.

Setelah berhansil menyandang warisan budaya tak benda, langkah Sarip tidak berhenti sampai di sini. Agar titel tersebut tidak dicabut, perlu ada upaya pelestarian yang harus dilakukan. Mulai dari edukasi lewat forum diskusi atau sosialisasi ke sekolah-sekolah.

Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, saat mencicipi amparan tatak. (Foto: RRI Samarinda/Chella)

Sementara itu, menurut Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, yang juga menjadi pembicara, mengatakan status warisan budaya tak benda menjadi momentum yang tepat untuk membranding Amparan Tatak sebagai ikon baru Kota Tepian.

Mengingat Samarinda adalah daerah transit, karena letaknya yang berada di tengah kalimantan timur, sehingga sangat strategis untuk memperkenalkan amparan tatak kepada para pendatang.

"Ini adalah suatu terobosan baru untuk membranding amparan tatak sebagai makanan Kota Samarinda. Semoga selanjutnya bisa dibuat tempat kuliner khusus amparan tatak khas sini, sehingga marketnya lebih meluas," ucapnya.

Meski sangat potensial, Ketua Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Kaltim, Fitriyana Zoelkifli, mengingatkan tantangan terbesar justru ada pada para pelaku UMKM. Menurutnya, banyak pembuat amparan tatak mempertahankan resep keluarga dan hanya memproduksi dalam jumlah kecil.

"Kalau resep keluarga, kapasitas produksinya, semisal satu hari hanya membuat 10 loyang. Kita tidak bisa memaksakan, kecuali mereka sudah melakukan kaderisasi atau pengembangan," kata Fitriyana.

Masalah lain adalah kurangnya inovasi. Fitriyana mengatakan, amparan tatak termasuk jenis kue basah yang membuatnya tidak begitu tahan lama, tampilannya cenderung sederhana, sehingga kurang menarik minat generasi muda.

Karenanya, agar bisa lebih memahami keinginan pasar, UMKM perlu belajar soal kewirausahaan, pengemasan, higienitas, dan cara memasarkan produk melalui pendampingan dari instansi terkait.

"Perlu keterlibatan pemerintah dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop), Dinas Tenaga Kerja, dan Dinas Kesehatan untuk memberikan pengetahuan kepada mereka. Kalau UMKM sendiri yang mengerjakan itu agak sulit ya," ujar Fitriyana.

Ia meyakini, apabila pemerintah, UMKM, dan komunitas bergerak bersama, Amparan Tatak tidak lagi hanya akan menjadi kue musiman, tetapi lahir sebagai ikon baru yang merepresentasikan kuliner Kota Samarinda. (Chella Defa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....