Ancaman ‘Brain Rot’ Bagi Generasi Muda
- 15 Jan 2025 21:03 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Istilah Brainrot atau ‘pembusukan otak’ telah menyita perhatian banyak orang ketika Oxford University Press mengumumkannya menjadi Word of The Year 2024. Brainrot adalah dampak nyata penggunaan media sosial yang berlebihan bagi kesehatan mental seseorang.
Fenomena seseorang yang mengalami kemunduran kondisi mental karena terobsesi melihat konten digital berkualitas rendah secara berlebihan. Konten yang dimaksud adalah video pada beberapa media sosial yang berdurasi pendek kurang dari 1 menit, dan dikonsumsi secara terus menerus atau biasa disebut dengan istilah scroll.
Banyaknya informasi yang masuk menyebabkan otak menjadi kebingungan sehingga tidak mampu menyaring terlebih dahulu, menerima semuanya. Sertanmenjadi terbiasa untuk berpikir pendek sehingga otak merasa tidak perlu berpikir kritis.
Hal ini menyebabkan fungsi kognitif mengalami penurunan, otak menjadi sangat mudah menerima informasi sehingga menginginkan segala sesuatu dengan cara yang paling mudah, paling instan, tidak rumit. Hal itu karena mengalami kemerosotan dalam berpikir dan emosi tidak matang.
“Kebiasaan scroll gadget berjam-jam melihat konten berkualitas rendah dan berdurasi pendek berakibat pada kemerosotan dalam berpikir, lalu berdampak pula menjadi malas mengolah apa yang dirasakan sehingga tidak tuntas dalam mengelola emosi/tidak matang lalu muncul perilaku impulsive, spontan dan apatis,” ucap Shanty Komalasari seorang psikolog sekaligus dosen di UIN Antasari Banjarmasin, (14/1/2025).
Tingkat kesabaran rendah, gampang meledak emosinya, enggan berpikir panjang terutama dalam mengambil keputusan, dan menghindari hal yang membuat dirinya bekerja lebih keras adalah salah satu gejala brainrot. Generasi yang paling rentan terkena brainrot adalah Gen Z, karena generasi ini maupun generasi lanjutannya termasuk Gen Alpha dan Gen Beta adalah generasi yang hidup dimanjakan dengan teknologi sejak lahir.
Mereka sangat ketergantungan pada gadget sehingga jarang berinteraksi atau bersosialisasi dengan teman sebaya di dunia nyata. Scrolling konten receh adalah kegiatan yang menghibur bagi mereka.
Durasinya yang pendek membuat mereka sangat mudah memilah mana konten yang disukai dan mana yang tidak, namun fatalnya ini berdampak langsung pada kehidupan nyata. Mereka akan memilih untuk menghindar atau meninggalkan jika berhadapan langsung dengan masalah.
Scrolling adalah salah satu cara menghindari interaksi dengan orang yang tidak diinginkan, tapi justru jika ini dilakukan berjam-jam otak dihantam oleh gempuran informasi acak yang singkat malah membuat otak terlalu penuh menerima yang tidak diperlukan. Hal ini diperburuk jika dilakukan sesaat sebelum tidur, waktu terbaik bagi otak dalam menerima informasi yang dibawa masuk ke alam bawah sadar sehingga justru akan berbalik membuat sulit tidur dan waktu terbuang percuma.
Shanty Komalasari, M. Psi., Psikolog Shanty bahkan melakukan penelitian mandiri selama 2 tahun terakhir pada klien yang mengalami overthingking, ia menerapkan ‘puasa sosmed’ pada kliennya untuk tidak menonton konten berisi video pendek. Klien harus menghentikan sama sekali kebiasaan klien melihat sosial media yang sarat dengan konten berkualitas rendah dengan durasi pendek.
Klien hanya diizinkan menonton video panjang dari salah satu platform media digital, dan hasilnya sesuai prediksi bahwa klien menjadi jauh lebih tenang. Tidak mencemaskan sesuatu hal secara berlebihan dan logis dalam berpikir serta emosionalnya lebih stabil.
Melakukan ‘puasa sosmed’ adalah solusi tepat mengurangi atau bahkan mencegah brainrot. Konsumsi konten receh di media sosial adalah hal yang perlu diwaspadai, disadari, dan dikurangi. Brain rot adalah tantangan nyata dunia digital bagi masyarakat modern saat ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....