Dinkes Kaltim Bantah Puluhan Kasus HIV di Kutim
- 02 Feb 2026 08:22 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur menegaskan jumlah penderita HIV yang resmi terlaporkan di Kabupaten Kutai Timur baru delapan orang, sekaligus membantah isu ratusan pengidap HIV yang beredar di masyarakat.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, data tersebut bersumber dari sistem pelaporan resmi yang digunakan pemerintah dan menjadi acuan penanganan kasus HIV di daerah. Ia menegaskan angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan informasi tidak valid yang beredar luas.
“Itu salah, di Kutim hanya delapan yang terlaporkan kemarin. Jadi saat kami membaca informasi di media sosial, saya langsung melakukan pengecekan, sedikit saja dan tidak sampai ratusan,” ujar Jaya kepada rri.co.id saat dikonfirmasi Senin 2 Februari 2026.
Isu tersebut sebelumnya menyebutkan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kutai Timur melaporkan 422 orang diduga terindikasi HIV/AIDS. Bahkan, disebutkan sebagian di antaranya berasal dari kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltim Fitnawati menjelaskan, informasi tersebut masih memerlukan penelusuran dan verifikasi lanjutan sebelum dapat dijadikan rujukan kebijakan. Ia menegaskan tidak semua data dugaan dapat langsung dikategorikan sebagai kasus terkonfirmasi.
Jaya Mualimin mengakui, secara tren penyebaran HIV memang lebih banyak ditemukan pada kelompok berisiko tertentu. Salah satunya adalah komunitas LSL yang menjadi perhatian dalam program pencegahan dan pengendalian penyakit.
Pada tahun 2025, Dinkes Kaltim mencatat terdapat 1.018 kasus HIV positif di seluruh Kalimantan Timur, dengan sebaran terbanyak di Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara. Namun demikian, Kutai Timur tidak termasuk daerah dengan angka tinggi sebagaimana isu yang beredar.
Untuk menekan penularan, Dinkes Kaltim terus menggencarkan deteksi dini melalui skrining, khususnya menyasar komunitas berisiko dan lokasi rawan penularan. Upaya tersebut dilakukan secara terarah dan berbasis data.
“Upaya kita dengan melakukan skrining untuk komunitas tertentu, termasuk skrining pada komunitas LSL,” ujar Jaya.
Selain skrining, pemantauan juga dilakukan pada kawasan lokalisasi guna memastikan pengendalian kasus berjalan optimal. Dinkes Kaltim juga menekankan pentingnya pengobatan bagi penderita HIV.
Menurut Jaya, konsumsi obat antiretroviral (ARV) secara rutin mampu menekan jumlah virus hingga ke tingkat yang tidak menularkan. Sebaliknya, HIV yang tidak ditangani berpotensi berkembang menjadi AIDS dengan komplikasi serius.
“Jika tidak diobati, virus akan terus muncul dan penyakit penyertanya semakin banyak hingga jatuh pada kondisi AIDS,” ujarnya.
Terkait upaya jangka panjang, Jaya menyebutkan pengembangan vaksin HIV masih terus dilakukan oleh para peneliti. Ia berharap vaksin pencegahan tersebut dapat tersedia dalam beberapa tahun ke depan.
“Sekarang sedang dikembangkan vaksinnya. Mudah-mudahan dua tahun lagi sudah bisa ada,” ujar Jaya Mualimin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....