Cultural Immersion di Kemiren, Cara Baru Menikmati Banyuwangi

  • 16 Sep 2026 11:03 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Tren pariwisata dunia kini bergeser dari sekadar menikmati pemandangan menuju cultural immersion, yakni pengalaman membaur langsung dengan kehidupan masyarakat lokal. Wisatawan modern tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi ingin tinggal, belajar, dan merasakan budaya di destinasi yang mereka kunjungi.

Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang berhasil mengembangkan konsep tersebut melalui Desa Wisata Kemiren, Kecamatan Glagah. Desa ini dikenal sebagai pusat pelestarian budaya Suku Osing sekaligus destinasi wisata berbasis pengalaman yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

Kemiren menawarkan lebih dari sekadar panorama pedesaan. Pengunjung dapat tinggal di homestay milik warga, berinteraksi dengan keluarga Osing, hingga mengenal tradisi yang masih dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu daya tarik utamanya adalah rumah adat Osing dengan tiga bentuk arsitektur khas, yakni Bagenan, Tikel Balung, dan Baresan. Setiap bentuk rumah memiliki filosofi berbeda yang mencerminkan nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan perjalanan hidup masyarakat Blambangan.

Wisatawan tidak hanya melihat bangunan dari luar, tetapi juga dipersilakan masuk ke dalam rumah, berbincang dengan pemilik, serta menikmati kuliner tradisional yang dimasak menggunakan dapur kayu bakar. Hidangan seperti pecel pitik, tumpeng sewu, dan kopi khas Osing menjadi bagian dari pengalaman budaya yang autentik.

Pengalaman tersebut juga dirasakan grup Band Kotak saat berkunjung bersama keluarga ke Banyuwangi beberapa waktu lalu. Cella, Tantri, Chua, dan rombongan menikmati suasana Desa Kemiren yang tenang sekaligus merasakan keramahan masyarakat Osing secara langsung.

"Banyuwangi itu indah. Hari ini spesial karena kami datang ke Banyuwangi sambil membawa keluarga besar, termasuk anak-anak, ungkap Tantri, saat berkunjung ke banyuwangi bersama keluarganya, Minggu 21 Desember 2026.

Selain kuliner, wisatawan dapat mengikuti berbagai aktivitas budaya yang dipandu seniman lokal. Mereka diajak belajar memainkan musik gedogan, alat musik tradisional yang menggunakan lesung kayu, hingga mengenal dasar-dasar tari khas Banyuwangi.

Bagi pengunjung yang datang pada waktu tertentu, Desa Kemiren juga menjadi lokasi penyelenggaraan tradisi tahunan seperti Ngopi Sepuluh Ewu dan Ider Bumi. Festival tersebut tidak hanya menjadi atraksi wisata, tetapi juga wujud pelestarian warisan budaya masyarakat Osing dari generasi ke generasi.

Konsep community-based tourism membuat manfaat ekonomi pariwisata dirasakan langsung oleh warga desa. Masyarakat berperan sebagai pemandu wisata, pengelola homestay, perajin suvenir, hingga pelaku usaha kuliner, sehingga pendapatan wisata berputar di tingkat lokal.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mendampingi pengembangan Desa Wisata Kemiren melalui pelatihan pariwisata berkelanjutan dan pelestarian lingkungan. Pendekatan tersebut bertujuan menjaga keaslian tradisi agar tetap hidup tanpa kehilangan nilai budaya di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....