Revalidasi Ijen Geopark, Bondowoso Tegaskan Komitmen Jaga Alam dan Kesejahteraan
- 07 Agt 2026 16:16 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso – Proses revalidasi Ijen UNESCO Global Geopark (UGGp) resmi berakhir setelah berlangsung selama lima hari di wilayah Banyuwangi dan Bondowoso. Pemerintah Kabupaten Bondowoso menegaskan, revalidasi tersebut bukan sekadar upaya mempertahankan status UNESCO Global Geopark, tetapi menjadi momentum memperkuat pengelolaan kawasan yang menyeimbangkan pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Bupati Bondowoso As'ad Yahya Syafi'i saat Closing Meeting dan Farewell Party Revalidasi Ijen UNESCO Global Geopark 2026 yang dihadiri dua evaluator UNESCO, Andreas Josef Schueller dan Li Yue, di Bondowoso, Kamis (6/8/2026) malam.
Menurut As'ad, proses evaluasi harus dimaknai sebagai kesempatan untuk melakukan pembenahan sekaligus mengukur sejauh mana prinsip-prinsip geopark telah diterapkan secara nyata di lapangan.
"Revalidasi ini bukan hanya proses penilaian. Ini adalah kesempatan untuk belajar, berbenah, dan memastikan kawasan Geopark benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus tetap lestari," ujarnya.
Ia menegaskan, Pemkab Bondowoso tetap berkomitmen menjalankan tiga pilar utama UNESCO Global Geopark, yakni konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Ketiga aspek tersebut, menurutnya, harus berjalan beriringan agar kekayaan geologi dan alam kawasan Ijen tetap terjaga sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
As'ad menjelaskan, Bondowoso memiliki modal besar untuk mengembangkan konsep geopark karena menjadi bagian dari kawasan Gunung Ijen Purba yang memiliki 22 anak gunung dengan kekayaan geologi dan bentang alam bernilai tinggi. Namun, potensi tersebut tidak boleh hanya dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata.
Menurutnya, kawasan geopark harus menjadi ruang yang mempertemukan kepentingan konservasi dengan aktivitas ekonomi masyarakat sehingga pemanfaatan sumber daya alam tetap berlangsung secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.
Salah satu contoh pengembangan ekonomi berbasis geopark, lanjutnya, adalah sektor kopi. Bondowoso memiliki dua komoditas kopi berstatus Indikasi Geografis, yakni Kopi Arabika Java Ijen Raung dan Kopi Arabika Hyang Argopuro, yang terus dikembangkan sebagai identitas daerah sekaligus sumber penghidupan masyarakat di kawasan pegunungan.
Selain itu, penguatan konsep geopark juga dilakukan melalui sektor pendidikan. Nilai-nilai mengenai kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya mulai diintegrasikan dalam pembelajaran melalui muatan lokal di sekolah agar generasi muda memahami pentingnya menjaga warisan alam tersebut.
As'ad menilai keberadaan Ijen UNESCO Global Geopark telah memberikan dampak positif terhadap perkembangan daerah, terutama melalui meningkatnya aktivitas pariwisata yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar kawasan.
Meski demikian, ia menegaskan keberhasilan geopark tidak hanya diukur dari meningkatnya jumlah wisatawan, melainkan juga dari terjaganya kelestarian lingkungan serta manfaat yang dirasakan masyarakat.
Pada akhir rangkaian revalidasi, As'ad menyampaikan apresiasi kepada tim evaluator UNESCO yang telah melakukan penilaian pada 2 hingga 6 Agustus 2026. Ia berharap seluruh catatan dan rekomendasi yang diberikan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat pengelolaan Ijen Geopark.
"Kami berharap Ijen kembali mempertahankan status UNESCO Global Geopark. Namun yang lebih penting, semangat kolaborasi ini harus terus hidup agar kawasan ini mampu menjaga warisan alam dunia sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat," tegasnya.
Kini hasil revalidasi tinggal menunggu keputusan UNESCO. Apapun hasilnya, Pemerintah Kabupaten Bondowoso memastikan akan terus memperkuat pengelolaan kawasan Ijen dengan menempatkan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....