Wisatawan Prancis Terpukau Tradisi Jamasan Pusaka Banyuwangi

  • 17 Jun 2026 09:29 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID Banyuwangi - Tradisi jamasan pusaka atau pembersihan benda-benda kuno dalam rangka menyambut bulan Suro kembali digelar di Serambi Museum Blambangan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Selasa 16 Juni 2026. Ritual tahunan yang sarat nilai budaya dan spiritual tersebut menarik perhatian masyarakat hingga wisatawan mancanegara.

Salah seorang wisatawan asal Prancis, Zoe Couliard, mengaku terkesan saat menyaksikan langsung prosesi pembersihan keris dan berbagai pusaka peninggalan leluhur Banyuwangi. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi pengalaman baru yang tidak pernah ditemuinya di negaranya.

"Tidak sengaja saya lewat sini tadi, ternyata ada aktivitas yang saya tidak pernah lihat di tempat saya. Benda-benda kuno ini yang usianya ratusan tahun masih terlihat terjaga karena dirawat dengan benar oleh generasi penerus," kata Zoe saat ditemui di lokasi.

Tradisi jamasan pusaka merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya leluhur yang rutin dilaksanakan menjelang 1 Suro dalam kalender Jawa atau bertepatan dengan bulan Muharam. Bagi masyarakat Jawa, khususnya Banyuwangi, keris dan pusaka lainnya tidak hanya dipandang sebagai benda bersejarah, tetapi juga karya seni yang memiliki nilai filosofi dan budaya yang tinggi.

Salah satu komunitas yang konsisten melestarikan tradisi tersebut adalah Paguyuban Panji Blambangan. Paguyuban itu telah menggelar jamasan pusaka secara rutin sejak 2006, tidak lama setelah keris Indonesia ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 25 November 2005.

Ketua Paguyuban Panji Blambangan, Ilham Triadi Nagoro, menjelaskan prosesi jamasan tidak sekadar membersihkan pusaka dari karat dan kotoran. Ritual tersebut juga memiliki makna sebagai sarana introspeksi diri dalam menyambut tahun baru Jawa.

“Selain membersihkan secara fisik, prosesi itu juga sebenarnya bertujuan untuk membersihkan diri. Bagaimana manusia itu harus introspeksi setidaknya setahun sekali mengingat apa yang sudah dilakukan sepanjang tahun dan apa yang akan dilakukan pada tahun mendatang,” ujar Ilham.

Ia menjelaskan rangkaian jamasan diawali dengan pengambilan pusaka dari tempat penyimpanan, dilanjutkan tirakatan, hingga proses pencucian pusaka yang berlangsung selama 16 hingga 19 Juni 2026.

Berbagai pusaka yang dijamas tahun ini meliputi keris, pedang luwuk, hingga tombak biring. Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah tombak biring peninggalan Raden Tumenggung Astro Kusumo, Bupati Banyuwangi ke-18 yang menjabat pada 1888.

Selain prosesi jamasan, kegiatan tersebut juga diramaikan dengan pameran pusaka, sarasehan budaya, dan konsultasi perawatan tosan aji bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, pelestari budaya berharap generasi muda semakin mengenal dan memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam warisan budaya Nusantara.

Tradisi jamasan pusaka di Banyuwangi tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga mulai berkembang sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.

Kata kunci SEO:

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....