Masuk Taman Nasional Kini Pakai Aplikasi Digital
- 03 Jun 2026 09:56 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Banyuwangi – Wisatawan yang hendak berkunjung ke taman nasional (TN) dan taman wisata alam (TWA) kini wajib melakukan pemesanan tiket secara digital melalui aplikasi “Ayo ke Taman Nasional”. Sistem baru tersebut mulai diterapkan sebagai bagian dari pengembangan layanan publik berbasis digital di sektor pariwisata dan konservasi alam.
Aplikasi tersebut mulai diuji coba sejak 13 Mei 2026 untuk tanggal kunjungan mulai 18 Mei 2026. Peluncuran resminya dijadwalkan dilakukan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada Jumat, 5 Juni 2026, di TWA Kawah Ijen dan TN Alas Purwo Banyuwangi.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, mengatakan sistem tersebut bertujuan mempermudah wisatawan dalam melakukan reservasi sekaligus pembayaran tiket secara non tunai atau cashless.
“Mulai hari Minggu besok resmi diberlakukan. Wisatawan yang sudah mendaftar akan mendapatkan ID TN. Akun bisa dipakai untuk daftar kunjungan di TN seluruh Indonesia,” ujar Nur Patria, Selasa, 2 Juni 2026.
Melalui sistem tersebut, seluruh data pengunjung akan tercatat secara digital sehingga memudahkan pengelolaan wisata alam sekaligus meningkatkan transparansi layanan dan optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Meski dilakukan secara digital, BBKSDA memastikan tidak ada perubahan tarif tiket masuk. Persyaratan surat sehat bagi wisatawan juga tetap diberlakukan seperti sebelumnya.
Nur Patria menjelaskan, sistem baru itu juga akan terintegrasi dengan mekanisme blacklist nasional bagi pengunjung yang melakukan pelanggaran di kawasan konservasi, seperti vandalisme atau menyalakan api sembarangan.
Jika masuk daftar hitam, wisatawan otomatis tidak dapat melakukan pendaftaran kunjungan di seluruh TN dan TWA di Indonesia.
Di sisi lain, sistem digital tersebut juga dinilai akan mempermudah proses pelacakan identitas pengunjung jika terjadi kecelakaan atau kondisi darurat di kawasan wisata alam.
BBKSDA Jawa Timur bahkan berencana mengembangkan penggunaan teknologi RFID (Radio Frequency Identification) berupa gelang elektronik untuk pendaki gunung.
“Secara bertahap akan dikaitkan juga dengan RFID pakai gelang untuk deteksi ketika naik gunung, untuk memudahkan kalau ada SAR seperti pendaki kesasar atau hilang,” kata Nur Patria.
Selain meningkatkan keamanan, digitalisasi layanan tersebut diharapkan mampu menghindari praktik overbooking yang selama ini kerap terjadi di sejumlah destinasi wisata alam populer.
“Jadi bijaksanalah berwisata untuk memperbaiki hal-hal yang sebelumnya belum terakomodir dari pengunjung maupun pemerintah,” ucap Patria.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....