Pariwisata Kemiren Berdayakan Warga Lintas Usia

  • 01 Feb 2026 21:28 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi - Pesatnya perkembangan pariwisata di Kabupaten Banyuwangi membawa dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah. Pengembangan desa wisata tersebut tidak hanya menggerakkan sektor budaya dan pariwisata, tetapi juga membuka ruang penghasilan bagi warga dari berbagai kelompok usia.

Geliat ekonomi warga terlihat dari meningkatnya aktivitas usaha berbasis pariwisata di Desa Kemiren. Warga mendapatkan tambahan penghasilan dari layanan kuliner, homestay, hingga jasa wisata, termasuk kalangan lanjut usia yang sebelumnya terbatas dalam aktivitas ekonomi.

Salah satu warga lanjut usia yang merasakan manfaat langsung pariwisata adalah Mbah Ning (81). Sejak Kemiren berkembang sebagai desa wisata, ia aktif terlibat dalam kegiatan memasak menu khas Osing untuk melayani wisatawan yang berkunjung.

“Kalau ada tamu, saya ikut masak. Mereka biasanya minta makanan khas Kemiren seperti Pecel Pitik dan Ayam Kesrut. Dari situ sudah bisa dapat penghasilan,” ujar Mbah Ning.

Berkembangnya pariwisata di salah satu desa wisata adat terbaik dunia versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu membuat warga lanjut usia tetap produktif. Dengan memanfaatkan keahlian yang dimiliki, mereka bisa terus berdaya tanpa harus melakukan pekerjaan fisik berat.

“Bagi yang sudah tua seperti saya, ini sangat membantu. Kalau kerja di sawah sudah terlalu berat,” tutur Mbah Ning.

Sementara itu, bagi kalangan muda, kemajuan pariwisata membuka peluang untuk tetap tinggal di desa sekaligus menjaga kelestarian budaya. Aktivitas pariwisata justru menjadi sarana regenerasi pelestarian adat Osing.

“Desa kami sering didatangi tamu sejak menjadi desa wisata. Itu jadi dorongan bagi kami yang muda-muda untuk ikut melestarikan budaya,” kata Rika, salah satu pemuda Desa Kemiren.

Rika biasa membantu menawarkan paket wisata kepada pengunjung, sekaligus melayani pesanan kuliner khas Osing. Aktivitas tersebut memberi tambahan penghasilan bagi keluarganya tanpa harus meninggalkan desa.

“Dari situ keluarga saya dapat tambahan penghasilan. Wisata benar-benar memberi dampak ekonomi bagi keluarga kami,” ungkap Rika.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kemiren mencatat, saat ini terdapat 22 usaha kecil dan menengah yang bergerak di sektor makan-minum dan sandang. Selain itu, sebanyak 40 homestay juga berdiri di desa tersebut, mayoritas berupa rumah tinggal milik warga yang disewakan kepada wisatawan.

Beberapa homestay bahkan dibangun khusus dalam bentuk kamar-kamar untuk menginap tamu. Kondisi tersebut memperluas perputaran ekonomi warga secara merata.

“Adanya wisata juga membuat sanggar kesenian tetap hidup. Di Kemiren terdapat 18 sanggar kesenian yang seluruhnya melestarikan kebudayaan adat suku Osing,” kata Ketua Pokdarwis Desa Kemiren Moh Edy Saputro.

Setiap tahun, ribuan wisatawan datang ke Desa Kemiren untuk mengenal budaya Osing. Berdasarkan data buku tamu Pokdarwis, kunjungan wisatawan berkisar antara 2 ribu hingga 4 ribu orang per tahun.

“Sebelum pandemi Covid-19, kunjungan wisata sempat mencapai 18 ribu orang pada 2019. Setelah pandemi, kami terus berupaya menyuguhkan kebudayaan dalam pariwisata secara optimal untuk mengulang capaian tersebut,” imbuh Edy.

Tak hanya berdampak secara ekonomi, perkembangan pariwisata juga mengantarkan Desa Kemiren meraih berbagai penghargaan bergengsi. Di antaranya Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024, International The 5th ASEAN Homestay Award dalam ajang ASEAN Tourism Award 2025, serta masuk dalam Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia melalui The Best Tourism Villages Upgrade Programme dari United Nations Tourism.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....