Tujuh Tren Perjalanan Liburan yang Mewarnai 2026

  • 05 Jan 2026 10:43 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember: Tahun 2026 akan menjadi tahun liburan yang tenang, dengan perjalanan yang dirancang algoritma, Ultra-Personalised retreats, dan kembalinya liburan yang lebih santai dan terencana. Hal ini seperti tersampaikan dari data Hotel-hotel terkemuka di dunia, Perusahaan travel, dan para analisis data, dalam laporan dari BBC News (02/01/26). Data ini dikumpulkan dalam beberapa bulan terakhir untuk menilai kemana arah industri pariwisata pada tahun ini.

Mulai dari 'coolcations', tren liburan ke destinasi dengan udara sejuk yang sempat populer beberapa tahun lalu, hingga 'flashpacking', istilah untuk backpacking kelas atas, tren liburan tahunan biasanya mencerminkan gaya hidup kita saat ini atau aspirasi gaya hidup yang ingin dicapai.

BBC News juga menelaah dan memprediksi tren liburan tahun ini, lengkap dengan kata kunci yang mewakili masing-masing tren. Berikut adalah tren liburan teratas pada tahun 2026:

1. Ketenangan/kedamaian yang utama

Salah satu tren yang mendominasi tahun 2026 adalah "quietcations" yang juga disebut dengan Hushptality, yaitu Gerakan yang berfokus pada kenyamanan, keheningan dan usaha menemukan cara untuk istirahat mental dari akumulasi tekanan kehidupan modern. Ditengah budaya digital yang selalu aktif dan meningkat tanpa henti melalui update peristiwa global diseluruh dunia secara real time yang kita konsumsi, membuat kita ingin memutuskan koneksi sejenak dari dunia digital. Awal terbentuknya tren ini telah diamati oleh Hector Hughes, salah satu pendiri unplugged yaitu sebuah seri kabin digital detox di inggris.

"Ketika pertama kali memulai unplugged pada tahun 2020, digital detoxing dan kehidupan analog hampir tidak pernah terdengar," ujar Hughes. "Sekarang , lebih dari separuh tamu kami menyebut burnout dan kelelahan screen time sebagai alasan utama mereka untuk memesan." Tren ini muncul diberbagai tempat, contohnyq adalah Visit Snake's Map of Quietude di selatan Swedia, yaitu jaringan tempat yang diberi peringkat berdasarkan tingkat keheningan sehingga pengunjung dapat mencari kedamaian dan juga ketengan; sementara itu di Oregon, Amerika Serikat memiliki Skycave Retreats yang mewajibkan kondisi gelap total pada pengunjung yang bermalam selama tiga hari disana.

2. Gen AI dibalik admin

Pada 2026, pemanfaatan AI dalam industri pariwisata diperkirakan akan semakin meluas dan terintegrasi. Menurut riset yang dilakukan Amadeus saat ini sudah semakin banyak wisatawan yang menggunakan AI generative dalam membuat planning dan booking untuk keperluan berlibur. Perencanaan liburan semakin mudah dilakukan secara otomatis dengan masuknya fitur berbasis AI seperti ChatGPT ke dalam platform besar seperti Expedia dan Booking.com. Dengan adanya penerjemahan real time dan digital check-in melalui ponsel, teknologi perlahan mengurangi berbagai urusan administratif yang sebelumnya melekat dalam proses bepergian.

Meski menawarkan kemudahan, perkembangan AI juga memiliki sejumlah tantangan. Pakar keberlanjutan menilai bahwa sistem rekomendasi berbasis algoritma berpotensi memperparah overtourism karena mendorong wisatawan menuju destinasi yang cenderung sama. Selain itu, pemanfaatan teknologi ini juga berkontribusi pada meningkatnya kasus penipuan perjalanan, sehingga pengguna perlu bersikap lebih cermat dalam menggunakannya.

Menurut CEO Concept Bureau, peneliti tren budaya Jasmine Bina, kehadiran AI generatif membuat seseorang dalam menentukan liburan jadi semakin personal. Sekarang, teknologi ikut membantu orang memahami kebutuhan mental dan emosional kita sebelum memilih destinasi, meskipun tidak banyak merubah alasan utama berwisata.

Jasmine menjelaskan bahwa seseorang bisa saja ingin berlibur ke resor untuk memulihkan diri dari burnout. Namun kini, alih-alih hanya menelusuri rekomendasi dari TikTok, orang cenderung memanfaatkan ChatGPT terlebih dahulu untuk memahami jenis burnout yang dialami, mengetahui ritual atau aktivitas yang paling sesuai bagi dirinya, serta memilih destinasi yang cocok dengan kondisi emosionalnya.

3. Kepercayaan diatas pilihan

Fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk kelelahan dalam mengambil keputusan, kecenderungan untuk menyerahkan pilihan, atau keinginan merasakan pengalaman yang sepenuhnya diarahkan dan dibuat oleh pihak lain. Hal ini terlihat dari meningkatnya jenis perjalanan di mana wisatawan tidak dituntut untuk menentukan apa pun selama liburan dengan bahasa lain rute dan destinasi sudah diatur seperti pada open trip.

Di Kepulauan Faroe, Denmark pengurangan pilihan diterapkan sebagai bagian dari upaya keberlanjutan melalui peluncuran mobil dengan sistem navigasi mandiri. Sementara itu, di wilayah lain, pendekatan serupa dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman liburan yang lebih tenang dan bebas tekanan. Di Mendoza, Argentina, Winemaker’s House & Spa Suites milik Susana Balboa menghadirkan konsep perjalanan misterius yang bertujuan mengurangi stres saat pemesanan sekaligus memberikan kejutan yang telah dikurasi bagi wisatawan. Tren serupa juga terlihat di industri kapal pesiar, di mana mystery cruises—perjalanan tanpa pengungkapan rute sebelumnya—semakin diminati untuk pilihan berwisata.

Laporan Lemongrass menunjukkan bahwa liburan yang sudah dikurasi ini muncul karena orang semakin lelah harus memikirkan terlalu banyak keputusan kecil, baik dalam rutinitas sehari-hari maupun saat traveling.

4. Perjalanan darat yang lebih diminati dari penerbangan

Data dari Hilton’s 2026 Trends Report menunjukkan peningkatan minat terhadap road trip, tercermin dari masifnya penggunaan tagar #RoadTrip secara global. Meski sebagian pemilik industri menghadirkan perjalanan darat sebagai pengalaman mewah dengan sentuhan kuliner dan gaya hidup premium, bagi banyak wisatawan pilihan berkendara justru menjadi strategi untuk menekan pengeluaran. Fenomena ini menunjukkan bahwa road trip tidak hanya merepresentasikan gaya liburan berbasis kebebasan dan eksplorasi, tetapi juga respons pragmatis terhadap kondisi ekonomi, dengan karakteristik yang kuat terutama di kawasan Amerika Utara dan Eropa.

Milena Nikolova, chief behaviour officer di BehaviorSMART, menilai bahwa meningkatnya popularitas perjalanan darat tidak lepas dari konteks budaya tertentu, khususnya di Amerika Serikat. Ia menjelaskan bahwa “Sifat hubungan manusia dengan mobil di Amerika Utara dan Eropa sangat berbeda,” ujarnya, “yang membuat mereka memiliki sikap berbeda terhadap berkendara untuk tujuan rekreasi.”

5. Ultra personalized menggantikan konsep satu untuk semua

Industri perjalanan kini beralih dari konsep liburan seragam ke pengalaman yang lebih personal, dengan paket wisata yang disesuaikan dengan fase hidup dan minat khusus setiap individu.

Jasmine Bina melihat tren ini sebagai respons terhadap kehidupan modern yang terasa terus berjalan tanpa jeda dan minim ritual penting. Karena itu, perjalanan seperti tur duka, perceraian, atau retret menopause menjadi ruang khusus untuk memproses emosi dan menandai fase hidup tertentu. Bagi industri perjalanan, hal ini membuka peluang untuk menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna, bukan sekadar liburan biasa.

6.Hidden gem menggantikan tempat populer

Minat wisatawan pada 2026 diprediksi bergeser ke destinasi yang lebih sepi dan jarang dikunjungi. Banyak wisatawan mulai menjauh dari lokasi wisata yang terlalu ramai dan sering kali tidak sesuai dengan gambaran ideal di media sosial, lalu memilih tempat dengan suasana lebih tenang dan autentik. Di Inggris, tren ini terlihat dari menurunnya ketertarikan pada kawasan wisata utama seperti Cotswolds dan Cornwall, yang beralih ke wilayah dengan kunjungan lebih rendah seperti Northumberland, Wales, dan Somerset. Selain itu, perjalanan yang didorong oleh rasa ingin tahu dan pencarian makna juga semakin diminati, termasuk petualangan ke daerah yang belum banyak terekspos wisatawan.

7. Budaya lebih diminati dari sekedar hedonis

Perjalanan berbasis budaya diperkirakan terus meningkat pada 2026, seiring naiknya popularitas wisata sastra dan tren perjalanan yang terinspirasi dari film serta serial televisi. Media sosial seperti #BookTok turut mendorong minat wisatawan untuk mengunjungi destinasi yang memiliki keterkaitan dengan dunia fiksi dan cerita populer. Hotel dan destinasi pun mulai menawarkan pengalaman tematik, seperti retret membaca dan penginapan berbasis narasi. Tren ini dipandang sebagai bentuk pelarian modern, di mana wisata budaya memberi ruang refleksi sekaligus memungkinkan wisatawan terhubung lebih dalam dengan cerita dan makna di balik sebuah tempat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....