Sarka Space Sayangkan Penutupan Wisata Kalipait

  • 02 Jan 2026 16:43 WIB
  •  Jember

KBRN, Bondowoso: Komunitas Sarka Space menyayangkan penutupan wisata Kalipait, di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Bondowoso karena banyaknya sampah. Sarka Space adalah komunitas yang fokus melakukan pengelolaan sampah khususnya sampah plastik di Bondowoso.

Sarka Space dikenal sebagai "Roma Sarka Bondowoso" dalam bahasa Madura berarti rumah sampah Bondowoso.

Ahmad Quraisy, Koordinator Komunitas Sarka Space Bondowoso, mengatakan penutupan wisata Kalipait adalah bukti bahwa pengelolaan lingkungan masih dipahami sebagai urusan menyembunyikan masalah. Bukan menyelesaikannya. Karena belum ditopang oleh solusi struktural yang memadai. Ketika sampah tak mampu diurus, yang dikorbankan justru ruang publik dan masyarakatnya

"Sampah tidak hilang karena lokasi ditutup. Hanya dipindahkan seperti tanggung jawab yang terus dilempar dari satu kebijakan instan ke kebijakan instan berikutnya," jelasnya dikonfirmasi Jum'at (2/1/2026).

Ia menerangkan situasi ini semakin krusial karena Bondowoso sedang berada dalam tahapan penting revalidasi geopark. Dimana pengelolaan lingkungan, tata kelola sampah, dan keterlibatan masyarakat merupakan indikator utama penilaian.

Geopark tidak hanya berbicara tentang keindahan geologi. Tapi tentang bagaimana sebuah wilayah mengelola dampak aktivitas manusia secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Dalam konteks ini, penanganan sampah yang reaktif ditambah kondisi TPA Bondowoso yang mendapat kartu merah berpotensi mengirimkan sinyal buruk dalam proses revalidasi.

"Ini bukan semata soal citra, melainkan konsistensi antara narasi pariwisata berkelanjutan dan praktik kebijakan di lapangan," jelasnya.

Ia menegaskan penutupan ini bukan solusi, melainkan pengakuan diam-diam bahwa pemerintah daerah kalah oleh sampah.

Kalah karena enggan membangun sistem. Kalah karena menutup mata terhadap potensi kolaborasi. Kalah karena lebih nyaman mengambil langkah yang terlihat tegas, meski kosong isi.

"Hari ini kalipait, besok entah dimana. Karena selama sampah diperlakukan sebagai alasan penutupan, bukan objek pengelolaan, siklus ini akan terus berulang," jelasnya.

Dia mengatakan selama ini Sarka Space kerap diundang untuk ikut membahas SE, krisis iklim dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Bappeda. Namun kemudian Kalipait ditutup karena banyaknya sampah jadi pihaknya sangat prihatin.

"BKSDA tanahnya kan masih masuk wilayah Bondowoso. Harusnya kan ada komunikasi sebelum penutupan," terangnya.

Namun begitu, Sarka Space masih berharap besar terhadap pemerintah daerah bisa berkolaborasi dalam menangani permasalahan sampah.

"Kita beberapa kali dinilai butuh anggaran. Padahal kami tak butuh anggaran sebenarnya jika bisa bareng-bareng. Kita sudah buktikan, tanpa bantuan pemerintah kita bisa ikut lomba, bisa ikut pegajuan program," pungkasnya.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menutup air terjun Kalipait, di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Bondowoso dari kunjungan wisatawan.

Meski sebenarnya belum ada pengelolaan wisata di air terjun Kalipait, namun lokasinya sering didatangi oleh pengunjung karena keindahan air terjun asam yang mengalir dari danau Kawah Ijen.

Kalipait merupakan situs Geologi dalam Ijen Unesco Global Geopark Kabupaten Bondowoso-Banyuwangi.

Menurut Koordinator RKW 15 TWA Kawah Ijen, Rusdi Santoso, kebijakan itu diambil karena sering dijumpai banyak sampah pengunjung di kawasan tersebut.

Karena itulah, posisi di bagian depan Kalipait telah dipasangi pagar dari kunjungan wisata.

"Kemaren dikeluhkan sampah bawaan pengunjung makanya jadi ditutup," jelasnya dikonfirmasi Sabtu (27/12/2025).

Ia menerangkan penutupan akan dilakukan hingga sarana prasarana pendukung sebagai objek wisata siap.

"Di tutup sampai siap adanya sarana dan prasarana pendukung dan petugas yang stanby," ujarnya.

Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) Bondowoso, Tantri Raras Ayuningtias, menegaskan bahwa secara status Kali Pahit telah masuk dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA), sehingga pengelolaannya tidak bisa disamakan dengan destinasi wisata umum.

“Kawasan itu adalah tempat konservasi, jadi tidak serta-merta menjadi tujuan wisata. Kalau memang masuk, harus sesuai kebijakan BKSDA,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso serta BUMDes Kalianyar sempat mengajukan diri sebagai pengelola. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....