Mengenal Desa Kemiren Banyuwangi Yang Kental Budaya Osing
- 09 Nov 2025 22:49 WIB
- Jember
KBRN, Banyuwangi: Salah satu agenda wisata budaya yang paling dikenal di Banyuwangi adalah Festival Ngopi Sewu. Digelar di Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, ribuan cangkir kopi khas disajikan di depan rumah warga di sepanjang ruas utama desa kepada para pengunjung yang datang menikmati suasana Ngopi Sewu.
Desa Wisata Adat Osing Kemiren merupakan salah satu destinasi budaya unggulan Banyuwangi yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal. Desa ini dihuni oleh masyarakat asli Suku Osing, suku asli Banyuwangi yang masih teguh mempertahankan adat dan budaya leluhur mereka.
Keunikan budaya Osing tercermin dari bahasa sehari-hari, arsitektur rumah tradisional, hingga berbagai ritual dan upacara adat yang masih lestari hingga kini. Kemiren menjadi tempat ideal untuk mengenal lebih dekat budaya khas Banyuwangi.
Desa ini bukan hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga pusat pelestarian budaya Osing yang semakin langka di tengah arus modernisasi. Tak heran, berbagai tradisi adat masih mewarnai kehidupan masyarakat, seperti Tumpeng Sewu, Barong Ider Bumi, hingga Mocoan Lontar Yusuf.
Kemiren juga memiliki Sanggar Tari Gandrung, tempat para penari muda belajar seni tari khas Banyuwangi. Setiap Minggu pagi, warga menggelar Pasar Kuliner Tradisional Kemiren, yang menyajikan aneka makanan khas seperti Pecel Pitik, Ayam Kesrut, hingga kudapan tradisional Osing.
Pengakuan atas kekayaan budaya dan keramahan warganya membuat Desa Kemiren ditetapkan menjadi bagian dari Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia, melalui program The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 oleh United Nations Tourism (UN Tourism), badan pariwisata di bawah naungan PBB.
Penetapan tersebut diumumkan dalam ajang Best Tourism Villages by UN Tourism–2025 Ceremony & Third Annual Network Meeting di Huzhou, China, pada 17 Oktober 2025. Kemiren berhasil menjadi salah satu yang terbaik setelah melewati seleksi ketat dari 270 desa wisata di 65 negara anggota UN Tourism.
Ketua Adat Osing Desa Kemiren, Suhaimi, menjelaskan bahwa keramahan warga dalam menyambut tamu merupakan bagian dari ajaran leluhur masyarakat Osing. Menurutnya, suguh, gupuh, lungguh adalah etika yang menjadi pedoman warga Osing. Suguh berarti suguhan atau hidangan yang wajib diberikan kepada tamu, sekadar minuman atau secangkir kopi. Gupuh bermakna antusias atau tergopoh-gopoh dalam menyambut tamu, sedangkan lungguh berarti menyiapkan tempat sebaik-baiknya bagi setiap tamu yang datang.
“Kita diajarkan suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu,” ungkap Suhaimi yang akbrab disapa Mbah Imik, Minggu (9/11/2025).
Mbah Imik, menambahkan bahwa ajaran suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu tersebut menjadi dasar terselenggaranya Festival Ngopi Sewu.
“Ngopi Sepuluh Ewu ini adalah bentuk nyata dari suguh, gupuh, lungguh masyarakat Osing dalam menerima tamu,” katanya.
Meskipun bukan daerah penghasil kopi, Desa Kemiren kini dikenal sebagai salah satu destinasi ngopi paling populer di Banyuwangi. Beragam warung kopi tradisional tersebar di desa ini dan setiap harinya ramai dikunjungi penikmat kopi dari berbagai daerah.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaku bangga atas geliat warga Kemiren dalam menjaga warisan budaya sekaligus menggerakkan pariwisata daerah. Menurutnya Kemiren telah menunjukkan bahwa desa dengan akar budaya yang kuat bisa maju dan mendunia tanpa kehilangan jati dirinya
“Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memperkuat ekosistem pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis budaya,” kata Bupati Ipuk.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....