Ngopi Sepuluh Ewu Jadi Magnet Wisata Budaya Banyuwangi
- 09 Nov 2025 22:46 WIB
- Jember
KBRN, Banyuwangi: Sejak pertama digelar pada 2014, Festival Ngopi Sepuluh Ewu (minum sepuluh ribu kopi) menjadi salah satu agenda tahunan yang paling ditunggu wisatawan. Seperti Sabtu malam (8/11/2025), ribuan pengunjung dari berbagai kota dan turis asing terlihat menikmati suasana Ngopi Sewu di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Setiap tahun, ribuan orang memadati Desa Adat Kemiren yang banyak dihuni warga Osing untuk menikmati suasana hangat sambil menyeruput kopi khas Banyuwangi. Sepanjang jalan utama desa adat disulap menjadi warung kopi dadakan. Deretan depan rumah warga berubah menjadi tempat ngopi, lengkap dengan meja, kursi, hingga lesehan yang disediakan bersama kudapan dan kopi khas Banyuwangi sebagai menu utama.
Di sepanjang jalan itu, warga Osing menyambut pengunjung dengan ramah sambil menyuguhkan kopi robusta Banyuwangi dalam wadah cangkir yang diwariskan turun-temurun. Selain kopi gratis, pengunjung juga disuguhi aneka kudapan tradisional masyarakat Using seperti kucur, tape ketan yang dibungkus daun kemiri, hingga pisang goreng yang disajikan dengan penuh keakraban.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani turut hadir menikmati kopi bersama warga. Ia tampak berbaur tanpa sekat, mengobrol santai bersama pengunjung dan warga setempat.
“Momentum malam ini selain mengenalkan kopi Banyuwangi yang telah dikenal luas hingga ke luar negeri, juga jadi sarana mempererat kebersamaan dan persaudaraan antarwarga Banyuwangi,” kata Ipuk, SAbtu (8/11/2025).
Ipuk mengapresiasi Desa Kemiren yang tahun ini meraih dua penghargaan bergengsi di tingkat dunia, yakni The 5th ASEAN Homestay Award dan The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Tourism (UN Tourism).
“Pemerintah daerah selalu mendukung semua warga Banyuwangi untuk menjaga budaya Banyuwangi secara bersama-sama,” ucap Ipuk.
Di antara kerumunan, tampak pasangan wisatawan asal Republik Ceko, Adela dan Ardek, ikut larut menikmati suasana malam penuh aroma kopi itu. Adela mengaku jatuh cinta pada kuliner tradisional Banyuwangi.
“Kue kucur di sini rasanya manis dan nikmat, apalagi dimakan hangat bersama kopi. Kami disambut sangat ramah, masyarakat sini memberikan secangkir kopi gratis dan rasanya sangat enak,” kata Adela.
Festival juga dihadiri selebgram Winona Araminta yang datang bersama keluarganya. Ia mengaku baru pertama kali menikmati suasana Ngopi Sepuluh Ewu karena kesibukannya di Jakarta.
“Vibes-nya menyenangkan. Ramai banget, gak nyangka. Terus makanannya enak-enak dan murah-murah,” kata Winona.
Kepala Desa Kemiren M. Arifin mengatakan, festival ini telah berlangsung selama 12 tahun berkat dukungan dan kekompakan warga desa. Menurutnya, kegiatan ini berakar dari filosofi masyarakat Osing, yakni suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu. Suguh berarti suguhan atau hidangan, gupuh bermakna antusias dalam menyambut tamu, sedangkan lungguh berarti menyiapkan tempat terbaik bagi setiap tamu yang datang.
“Ngopi Sepuluh Ewu ini adalah bentuk nyata dari suguh, gupuh, lungguh masyarakat Osing dalam menerima tamu. Kegiatan ini juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi warga sekaligus menjaga warisan budaya,” ujar Arifin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....