Ngopi Sepuluh Ewu 2025 Suguhkan Tradisi Osing Banyuwangi

  • 07 Nov 2025 21:27 WIB
  •  Jember

KBRN, Banyuwangi: Festival Ngopi Sepuluh Ewu 2025 akan digelar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu malam (8/11/2025). Tradisi tahunan ini menjadi bagian dari Banyuwangi Festival (B-Fest) yang menyuguhkan ngopi massal sembari menampilkan kekayaan budaya masyarakat Osing.

Ketua Panitia Festival, Moh Edy Saputro, mengatakan warga Desa Kemiren memiliki tradisi kuat dalam menyuguhkan kopi, kedapa setiap tamu yang datang. Tradisi tersebut menjadikan filosofi masyarakat Desa Kemiren yakni sak corot dadi seduluran, yang artinya sekali seduh kita menjadi bersaudara.

"Setiap ada tamu masyakat Kemiren pasti disuguhkan dengan kopi. Tradisi inilah yang kami angkat seklaigus menjadi budaya, sekaligus simbol persaudaraan Masyarakat Oseng di Kemiren," ungkap Edy, Jum'at (7/11/2025).

DAlam FEstival Ngopi Sepuluh Ewu, panitia telah menyiapkan 1 kuintal kopi robusta hasil perkebunan lokal Banyuwangi. Kopi robusta tersebut dibeli dari pelaku UMKM kopi Banyuwangi untuk mendukung ekonomi lokal. Bubuk kopi dikemas dalam ukuran 100–200 gram dan dibagikan kepada warga untuk disajikan kepada tamu dan pengunjung.

“Kopi itu nanti akan kami sebar ke warga yang tinggal di kanan-kiri jalan sebelum festival. Kopi dan gula akan dibagikan ke setiap meja dengan dua kali suplai, pertama sebelum acara dimulai dan kedua sekitar 30 menit saat acara berlangsung,” ucap Edy.

Selama festival berlangsung, jalan utama Desa Kemiren akan ditutup total. Sebanyak 300 meja dan kursi disiapkan di sepanjang jalan. Setiap tahun, ribuan warga dan wisatawan memadati Kemiren untuk menikmati kopi gratis sambil merasakan suasana malam khas budaya Osing.

Meski bukan daerah penghasil kopi, warga Desa Kemiren memiliki tradisi kuat dalam menyuguhkan kopi. Setiap keluarga di desa adat ini memiliki cangkir keramik warisan turun-temurun.

Dengan sekitar 1.100 kepala keluarga, jumlah cangkir di Desa Kemiren kini diperkirakan mencapai lebih dari 10 ribu cangkir. Tradisi ini mencerminkan nilai luhur masyarakat Osing, yakni suguh, gupuh, lungguh—falsafah yang berarti tamu disambut dengan suguhan, keramahan, dan penghormatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....