Festival Musik Perkusi Banyuwangi Tampilkan Kolaborasi Lintas Daerah

  • 25 Okt 2025 21:47 WIB
  •  Jember

KBRN, Banyuwangi: Kabupaten Banyuwangi kembali menambah deretan event kreatifnya melalui Festival Musik Perkusi 2025. Festival yang baru pertama kali digelar tersebut menghadirkan kolaborasi antara musisi lokal dan seniman dari luar daerah.

Festival Perkusi merupakan ajang pelestarian sekaligus inovasi musik tradisional khas Bumi Blambangan. Musik perkusi Banyuwangi dikenal memiliki kekhasan ritme cepat dan hentakan energik, mencerminkan semangat masyarakat pesisir yang dinamis. Pukulan alat musik tradisional seperti kendang, jimbe, rebana, dan gong kecil berpadu membentuk komposisi unik nan memikat.

Sebanyak empat grup perkusi tampil memeriahkan acara. Tiga di antaranya berasal dari Banyuwangi, yakni Damar Art, Musik Nada Using (Munsing), dan Jiwa Etnik Banyuwangi (JEB). Ketiganya dimotori seniman muda jebolan kampus seni yang memadukan musik etnik Banyuwangi dengan sentuhan modern tanpa kehilangan akar tradisi.

Salah satu penampilan yang menyita perhatian datang dari Damar Art yang berkolaborasi dengan penyanyi kondang Banyuwangi Vita Alvia. Mereka membawakan lagu “Bunga Bangsa” yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Banyuwangi yang dijuluki miniatur Nusantara.

Festival ini juga menghadirkan tamu spesial, Ethno Ensemble dari Solo, yang beranggotakan mahasiswa dan alumni ISI Surakarta jurusan etnomusikologi. Mereka berkolaborasi dengan mahasiswa ISI Banyuwangi menampilkan musik perkusi yang memadukan pola ritme janger khas Banyuwangi dengan sentuhan rock dan genre kontemporer.

“Lewat festival ini, kami ingin membuka ruang kolaborasi agar musisi muda Banyuwangi dapat berinteraksi dengan seniman dari luar daerah dan memperluas pengalaman mereka,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Jum'at (24/10/2025).

Ipuk menegaskan, Banyuwangi berkomitmen menjaga tradisi budaya, namun dengan kemasan yang relevan bagi generasi muda.

“Lewat festival perkusi ini, Banyuwangi menegaskan diri sebagai daerah yang tidak hanya kaya budaya, tetapi juga kreatif dalam mengolahnya menjadi daya tarik wisata dan kebanggaan daerah,” ujar Bupati Ipuk.

Koordinator Ethno Ensemble Solo, Bondan, mengaku bangga bisa tampil di Banyuwangi. Menurutnya, Banyuwangi pantas memiliki festival perkusi karena memiliki tradisi musik ritmis kuat seperti kuntulan dan gamelan Using yang telah menginspirasi banyak musisi.

“Bicara tentang perkusi, yang paling menyita perhatian dunia dan Indonesia adalah Banyuwangi. Dua puluh empat tahun kami berdiri, dan yang pertama kami pelajari adalah Kuntulan. Sampai sekarang kami belum bisa menirukannya,” kata Bondan.

Festival ini juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Salah satunya Paul, turis asal Jerman yang datang bersama dua rekannya setelah mendaki Gunung Ijen.

“Malam ini saya menyaksikan atraksi seni di Banyuwangi. Musiknya sangat menarik, budaya yang luar biasa. Kami sangat menikmatinya dan akan merekomendasikan teman-teman kami untuk datang ke Banyuwangi,” ujar Paul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....