Perkusi Using, Irama Energi dari Tanah Blambangan
- 21 Okt 2025 21:27 WIB
- Jember
KBRN, Banyuwangi: Dentuman kendang, gemerincing klincing, dan tabuhan gong berpadu mencipta irama rancak yang segera membangkitkan semangat siapa pun yang mendengarnya. Itulah Perkusi Using, musik khas Banyuwangi yang menjadi denyut nadi hampir seluruh kesenian di Bumi Blambangan.
Sebagai upaya mengenalkan kekayaan musikal tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Banyuwangi Percussion Festival (BPF) di Terminal Pariwisata Terpadu, Jumat malam (24/10/2025). Festival ini diharapkan menjadi panggung ekspresi bagi para seniman sekaligus ruang regenerasi bagi pelestarian seni musik tradisional Using.
“Banyuwangi kaya seni dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Salah satunya musik Perkusi Using,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Selasa (21/10/2025).
Menurut Ipuk, hampir semua kesenian daerah menggunakan musik perkusi Using sebagai pengiring, termasuk tari Gandrung yang menjadi ikon Banyuwangi.
“Karena itu kami secara khusus menggelar festival ini untuk mengenalkan keunikan dan keelokan seni musik perkusi yang dimiliki Banyuwangi,” ucap Bupati Ipuk.
Majelis Kehormatan Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Samsudin Adlawi, menyebut Perkusi Using sebagai warisan otentik yang tidak ditemukan di daerah lain di Nusantara. Musik ini lahir dari perpaduan alat tradisional seperti gong, klincing, rampak kendang, saron, dan angklung Using.
“Kekhasan Perkusi Using ada pada kecepatan pukulan kendangnya yang menghasilkan irama rancak dan energik, yang sampai sekarang belum bisa dinotasikan. Satu lagi kelebihannya adalah keluwesannya berpadu dengan berbagai genre musik,” ujar Samsudin.
Irama dinamis itu terus hidup dan diwariskan kepada generasi muda. Di sejumlah sekolah di Banyuwangi, musik Perkusi Using bahkan sudah diajarkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler.
“Regenerasi musik Banyuwangi berjalan baik. Festival ini menjadi panggung yang tepat agar seniman lokal lebih dikenal luas,” kata Samsudin.
Banyuwangi Percussion Festival perdana ini menampilkan empat grup perkusi. Tiga di antaranya berasal dari Banyuwangi—Damar Art, Munsing (Musik Nada Using), dan JEB (Jiwa Etnik Banyuwangi). Ketiganya dimotori oleh seniman muda jebolan kampus seni yang bereksperimen memadukan musik etnik dengan genre modern tanpa menghilangkan rasa tradisionalnya.
Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Banyuwangi, Budi Santoso, mengatakan festival ini juga menghadirkan grup tamu Ethno Ensemble dari Solo, yang beranggotakan mahasiswa dan alumni ISI Surakarta. Mereka akan berkolaborasi dengan mahasiswa seni ISI Banyuwangi untuk menampilkan komposisi lintas budaya perkusi Nusantara.
“Mereka hadir untuk memperkaya wawasan musik perkusi generasi muda Banyuwangi dan memberikan hiburan dengan nuansa baru,” kata Budi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....