Yosomulyo Menari 2025, Panggung Toleransi dan Gotong Royong
- 16 Sep 2025 21:30 WIB
- Jember
KBRN, Banyuwangi: Ribuan mata tertuju pada panggung terbuka, tempat 1.300 penari dari berbagai usia menari dalam satu irama, di Lapangan Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, Minggu (14/9/2025). Dari anak-anak dengan langkah polos hingga para lansia yang geraknya penuh kebijaksanaan, semua bersatu menuturkan kisah tentang harmoni dan toleransi.
Gelaran akbar bertajuk Yosomulyo Menari 2025 ini bukanlah hasil kerja tim profesional. Semua yang tampil adalah warga desa sendiri. Mereka berbulan-bulan berlatih di gang-gang sempit dan halaman rumah. Setiap RT dan RW mengirimkan perwakilan, lalu menyatu dalam latihan gabungan yang penuh gelak tawa dan canda.
“Fragmen tariannya begitu beragam dan indah. Saya tak menyangka sebanyak ini orang terlibat,” ujar Mathias Jensen, wisatawan asal Denmark, Minggu (14/9/2025).
Kepala Desa Yosomulyo, Joko Utomo Purniawan, menceritakan ide ini lahir dari keinginan sederhana yakni menghidupkan kembali gotong royong. Ia menyebutkan, pendanaan acara sama sekali tidak bersandar pada sponsor besar. Kostum, properti, dan panggung seluruhnya berasal dari swadaya warga.
“Ini kerja bersama. Dari anak-anak hingga orang tua, semua merasa memiliki,” kata Joko.
Latihan-latihan kecil yang dilakukan di tiap sudut kampung justru melahirkan keakraban baru. Warga yang jarang bertemu kini akrab bercengkerama. Anak-anak belajar disiplin, sementara para orang tua menemukan kebanggaan baru saat melihat generasi muda melestarikan tradisi.
Malam itu, saat musik tradisional menggema dan ratusan kain warna-warni berayun mengikuti angin, Yosomulyo Menari membuktikan sesuatu yang sederhana namun berharga: di tengah gempuran individualisme, kebersamaan masih menjadi kekuatan utama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....