Hardiknas 2026: Kebangkitan Pendidikan Banyuwangi dalam Harmoni Kuntulan Ewonan

  • 02 Mei 2026 05:11 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di Banyuwangi menjadi momentum reflektif sekaligus optimistis bagi dunia pendidikan daerah. Bagi Meidian Fauzi Mubarok, Staf Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, peringatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan titik tolak untuk menegaskan arah kebijakan pendidikan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berbasis kearifan lokal.

Dalam momentum tersebut, Meidian juga menyampaikan ucapan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026 dengan mengusung tema “Partisipasi semesta wujudkan pendidikan bermutu untuk semua.” Ia menekankan bahwa tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan ajakan nyata bagi seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif dalam memajukan pendidikan.

Menurutnya, gelaran kuntulan ewonan di Taman Blambangan menjadi simbol kuat dari filosofi pendidikan yang ingin dibangun di Banyuwangi. Kuntulan tidak hanya dipandang sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai representasi nilai-nilai kolektif seperti kebersamaan, disiplin, dan harmoni yang sejalan dengan semangat pendidikan.

Dalam perspektifnya, pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu menyatukan berbagai elemen, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, hingga masyarakat. Ia menilai bahwa gerakan serempak dalam kuntulan mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam membangun sistem pendidikan yang berkelanjutan.

Momentum Hari Pendidikan Nasional juga dimaknai sebagai refleksi atas capaian dan tantangan yang dihadapi. Meidian menekankan bahwa Banyuwangi terus mendorong perluasan akses pendidikan, tidak hanya melalui jalur formal, tetapi juga melalui pendidikan nonformal seperti program kesetaraan, kursus, dan pelatihan keterampilan.

Ia berpandangan bahwa pendidikan harus hadir untuk semua, tanpa terkecuali. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan agar masyarakat yang selama ini belum terjangkau tetap memiliki kesempatan untuk belajar, termasuk melalui program pendidikan di lembaga pemasyarakatan sebagai bentuk pemberian kesempatan kedua.

Lebih lanjut, ia melihat bahwa kebangkitan pendidikan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik atau capaian statistik, tetapi dari perubahan pola pikir masyarakat. Semangat untuk terus belajar, keberanian untuk beradaptasi, serta kemauan untuk berkembang menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan.

Dalam menghadapi tantangan zaman, seperti perkembangan teknologi dan dinamika sosial, Meidian menilai bahwa pendekatan kontekstual menjadi kunci. Mengintegrasikan budaya lokal ke dalam pendidikan dinilai mampu memperkuat identitas sekaligus meningkatkan relevansi pembelajaran bagi peserta didik.

Ia juga menegaskan bahwa pendidikan di Banyuwangi tidak boleh terlepas dari akar budaya. Justru, budaya harus menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan jati diri yang kuat.

Melalui peringatan Hardiknas 2026, Meidian berharap semangat kolaborasi dapat terus diperkuat. Baginya, pendidikan adalah kerja bersama yang membutuhkan keterlibatan semua pihak untuk mencapai tujuan besar, yakni mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Di tengah harmoni kuntulan ewonan, ia melihat sebuah pesan mendalam bahwa pendidikan adalah perjalanan kolektif. Sebuah proses panjang yang tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus dijalani bersama dengan semangat gotong royong demi masa depan Banyuwangi yang lebih baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....