Jules Rimet, Trofi Legendaris yang Hilang Dicuri
- 30 Nov 2025 14:00 WIB
- Jember
KBRN, Jember: Di balik gegap gempita Piala Dunia, ada satu trofi legendaris yang kisahnya penuh kejayaan sekaligus misteri yaitu Piala Jules Rimet. Trofi inilah yang menjadi hadiah asli untuk juara Piala Dunia sejak edisi perdana tahun 1930, sebelum akhirnya dipensiunkan dan hilang secara tragis. Rioandlearn.com mencatat bahwa perjalanan Piala Jules Rimet melibatkan pencurian dramatis, kehormatan abadi bagi Brasil, hingga lenyapnya trofi yang kini diyakini sudah dilebur.
Piala Jules Rimet awalnya bernama “Victory” sebelum kemudian diganti untuk menghormati Jules Rimet, Presiden FIFA yang menggagas turnamen Piala Dunia. Trofi ini dirancang pematung Perancis Abel Lafleur dan menggambarkan sosok Nike, dewi kemenangan dalam mitologi Yunani, yang berdiri di atas cangkir bersudut sepuluh (decagonal cup). Simbol ini dimaksudkan sebagai lambang kejayaan, persatuan, dan semangat kompetisi antarbangsa melalui sepak bola.Secara fisik, trofi ini memiliki tinggi sekitar 35 sentimeter, berat 3,8 kilogram, terbuat dari perak sterling berlapis emas, dengan alas dari batu lapis lazuli. Bentuknya yang elegan dan sarat makna membuat Piala Jules Rimet bukan sekadar piala, tetapi ikon sejarah olahraga dunia.Jules Rimet percaya bahwa sepak bola bisa menjadi jembatan antarnegara yang sebelumnya berseberangan. Melalui Piala Dunia, Rimet ingin menciptakan ajang yang bukan hanya merayakan kemenangan segelintir tim, tetapi juga menyalurkan semangat dan gairah jutaan pecinta sepak bola di seluruh dunia. Trofi yang menyandang namanya kemudian menjadi simbol visi tersebut, menandai babak baru dalam sejarah sepak bola internasional.Sejak awal, FIFA menetapkan aturan bahwa negara yang berhasil menjuarai Piala Dunia tiga kali berhak menyimpan Piala Jules Rimet secara permanen. Brasil mewujudkan syarat itu pada 1970 dengan gelar ketiga mereka, dan sejak saat itu trofi tersebut resmi menjadi milik Federasi Sepak Bola Brasil (CBF).Bagi publik Brasil, Piala Jules Rimet bukan sekadar simbol juara, tetapi lambang “era emas” sepak bola mereka, era di saat nama Brazil identik dengan seni bermain bola dan dominasi di panggung dunia.Kisah dramatis Piala Jules Rimet dimulai pada tahun 1966, menjelang Piala Dunia di Inggris. Saat dipamerkan untuk umum, trofi ini dicuri, memicu pencarian besar-besaran. Polisi buntu, sampai akhirnya seorang pahlawan tak terduga muncul, seekor anjing bernama Pickles.Dikisahkan bahwa Pickles menemukan trofi itu terbungkus koran di bawah pagar tanaman di sebuah kebun di London Selatan. Penemuan ini datang tepat waktu, sehingga trofi bisa kembali tampil di Piala Dunia 1966 dan menyaksikan Inggris meraih gelar juara dunia pertamanya.Jika pencurian pertama berakhir bahagia, maka kisah kedua justru menjadi tragedi. Pada 1983, trofi Jules Rimet kembali dicuri, kali ini dari markas CBF di Brasil. Meski sudah disimpan dalam lemari kaca anti peluru, pelaku berhasil membobol dan membawa trofi tersebut.Para pelaku akhirnya tertangkap dan dihukum, tetapi trofinya tak pernah ditemukan. Trofi itu diyakini telah dilebur dan dijual sebagai logam mulia. Dengan demikian, dunia kehilangan salah satu artefak paling bersejarah dalam olahraga.Satu-satunya bagian asli yang tersisa adalah fragmen dari alas trofi, yang kini disimpan dan dipamerkan di markas FIFA di Zürich. Brasil sendiri kemudian membuat replika Piala Jules Rimet sebagai penghormatan atas warisan sepak bola mereka dan sebagai pengganti simbol kehormatan yang hilang.Sejak 1974, Piala Dunia menggunakan trofi baru yang kini dikenal sebagai FIFA World Cup Trophy. Namun, Piala Jules Rimet tetap hidup dalam ingatan sebagai trofi pertama yang mengangkat martabat turnamen ini ke level global.Meski wujud fisiknya hilang, kisah Piala Jules Rimet dari desainnya yang sarat simbol, perjalanan keliling dunia, pencurian dramatis, hingga lenyapnya secara misterius, telah menjadikannya salah satu relik paling legendaris dalam sejarah sepak bola.Pada akhirnya, Piala Jules Rimet bukan cuma soal emas dan batu mulia. Ia adalah cerita tentang mimpi, persatuan, tragedi, dan kejayaan yang terus diceritakan kembali setiap kali Piala Dunia digelar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....