Skandal Calciopoli yang Sempat Bikin Juventus Terpuruk

  • 29 Nov 2025 12:29 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember:Pada September 2006, dua ikon besar sepak bola Italia, Gianluigi Buffon dan Alessandro Del Piero, melangkah ke lapangan Serie B untuk pertama kalinya. Dengan 10.000 penonton memenuhi stadion, Juventus memulai musim di kasta kedua setelah terlibat dalam salah satu skandal terbesar dalam sejarah sepak bola Eropa. BBC.com mencatat bahwa hasil imbang 1-1 melawan tim kecil Rimini menjadi simbol dari jatuhnya klub raksasa ini ke titik paling rendah dalam sejarah mereka.

Maurizio Giovannelli, seorang pemegang tiket musiman Juventus, mengatakan kepada BBC Sport bahwa rasa “penghinaan” yang mereka alami justru berubah menjadi “amarah” dan akhirnya menjadi energi pendorong bagi Juventus untuk bangkit dari keterpurukan. Menurutnya, penurunan ke Serie B justru menjadi fondasi kebangkitan Juve hingga mampu kembali mencapai final Liga Champions dan mengembalikan status sebagai salah satu klub terbesar dunia.

Juventus, bersama AC Milan, Fiorentina, dan Lazio, menjadi pusat tuduhan adanya praktik manipulasi pertandingan melalui tekanan terhadap perangkat wasit. Skandal yang kemudian dikenal sebagai Calciopoli ini mencuat ketika rekaman telepon dari penyadapan membuka percakapan antara petinggi klub dan pejabat penunjuk wasit. Kasus tersebut awalnya terungkap bukan karena sepak bola, melainkan dari penyelidikan doping yang melibatkan Juventus.Luciano Moggi, General Manager Juventus kala itu, menjadi tokoh yang paling disorot. Ia, bersama presiden FIGC Franco Carraro dan wakil presiden Innocenzo Mazzini, akhirnya mengundurkan diri. Moggi sendiri selalu membantah melakukan pelanggaran apa pun, namun ia tetap dijatuhi larangan seumur hidup dari dunia sepak bola.Roberto Beccantini, koresponden senior La Stampa yang diwawancarai BBC, menggambarkan skandal itu sebagai “letusan gunung berapi”. Menurutnya, Juventus adalah klub yang sejak dulu membelah opini publik Italia, sehingga skandal tersebut memicu kegemparan nasional, terlebih terjadi pada tahun yang sama ketika Italia juara Piala Dunia 2006.Salah satu tuduhan paling dramatis dalam kasus ini yaitu Moggi dan chairman Juventus Antonio Giraudo diduga mengurung wasit Gianluca Paparesta beserta dua asistennya di ruang ganti setelah kekalahan Juve dari Reggina pada 2004. Mereka disebut marah karena merasa Juventus tidak “dilindungi” dalam pertandingan tersebut, meski Moggi membantah tuduhan itu. Sementara itu, media Italia juga mempublikasikan penyadapan telepon lain, termasuk percakapan Moggi dengan pejabat Komisi Wasit UEFA dan bahkan seorang menteri pemerintah. Beccantini menyebut suasana saat itu “seperti perang antar geng”.

Ada perubahan sanksi yang dijatuhkan kepada klub-klub terlibat. Juventus awalnya dihukum turun ke Serie B dengan pengurangan 30 poin sebelum akhirnya direvisi menjadi 9 poin. Dua gelar juara Serie A mereka dari musim 2004–2006 juga dicabut. AC Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina turut menerima hukuman berupa pengurangan poin, denda, serta pencoretan dari kompetisi Eropa.Walaupun sejumlah pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Patrick Vieira, Fabio Cannavaro, Gianluca Zambrotta, dan Lilian Thuram meninggalkan Turin yang sebagian besarnya pindah ke Inter Milan dan klub-klub elite Eropa lainnya, beberapa nama besar memilih bertahan. Buffon, Del Piero, Chiellini, Nedved hingga Trezeguet tetap setia memperkuat Juve di Serie B.Pengorbanan itu tidak sia-sia. Juventus hanya kalah empat kali dari 42 laga, dan meski memulai musim dari posisi terbawah karena pengurangan poin, mereka akhirnya menjadi juara Serie B dan kembali ke Serie A hanya dalam satu musim.Juventus sempat mengajukan banding ke Komite Olimpiade Italia untuk mencabut gelar Serie A 2005–06 dari Inter Milan. Gelar tersebut diberikan kepada Inter setelah Juve dan Milan dijatuhi hukuman dalam Calciopoli.Giovannelli menyebut gelar itu sebagai “Scudetto kardus”, sementara Beccantini menilai Inter tidak layak mendapatkan titel tersebut. Ia bahkan mengatakan bahwa bukti yang ditemukan beberapa tahun kemudian menunjukkan adanya komunikasi antara pihak Inter dan penentu wasit, meski tidak cukup kuat untuk membuktikan kesalahan, namun ia menilai hal itu seharusnya cukup untuk mencegah pemberian gelar kepada Inter.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....