Malam Midodareni ! Salah Satu Prosesi Menjelang Pernikahan Adat Jawa

  • 14 Agt 2024 09:40 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember: Pernikahan dalam adat Jawa terkenal kental dengan berbagai tradisi, salah satunya adalah midodareni. Meski bukan suatu kewajiban, namun pelaksanaan midodareni dalam pernikahan Jawa sendiri dipandang sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada budaya leluhur.

Prosesi midodareni merupakan rangkaian acara adat yang dilakukan sebelum melaksanakan pernikahan adat Jawa. Midodareni juga disebut sebagai malam pengarip-arip atau malam terakhir masa lajang bagi kedua mempelai.

Pada prosesi ini, biasanya mempelai pria dan keluarga akan menyambangi kediaman mempelai perempuan untuk memberikan aneka seserahan. Namun, mempelai pria dilarang bertemu dengan calon istri. Pasalnya, calon pengantin wanita sedang dipingit hingga hari pernikahan tiba.

Pemateri Workshop Siraman & Midodareni Gaya Surakarta, Nanang Ferianto,S.Pd, Rabu (07/08/2024) mengungkapkan kata midodareni berasal dari bahasa Jawa widodari atau bidadari. Pada prosesi ini, konon pada malam tersebut banyak bidadari yang turun dari kayangan. Para bidadari datang untuk memberikan doa restu kepada calon pengantin wanita, sehingga wajah sang mempelai akan terlihat cantik seperti bidadari. Hal ini membuat calon mempelai wanita harus terus berada di dalam kamar, atau dikenal dengan Istilah dipingit.Ungkapnya.

Dalam pelaksanaan midodareni, terdapat uba rampe atau perlengkapan yang perlu dipersiapkan. Beberapa hal yang dipersiapkan seperti sepasang kembar mayang, dua buah mayang, dua buah kelapa muda (gading), sepasang kendi berisi air yang berasal dari 7 sumber mata air, nasi gurih beserta lauk pauk, sepasang ingkung ayam, rujak degan, kopi, teh tanpa gula, juplak, roti tawar, dan gula jawa setangkep.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....