Harga Anjlok, Petani Jember Bagikan Gratis 3 Ton Hasil Panen Tomat
- 09 Agt 2024 18:45 WIB
- Jember
KBRN, Jember: Memasuki masa panen raya, Harga komoditas Tomat di Kabupaten Jember terjun bebas. Kondisi tersebut membuat tanaman tomat para petani tidak laku terjual hingga membuat para petani membagi-bagikan hasil panen tomat kepada masyarakat umum dengan cuma-cuma.
Salah satunya dilakukan oleh petani tomat asal Kecamataan Jelbuk, Ahmad Toufik. Hasil panen tanaman tomat miliknya mencapai 3 ton saat masa panen kali ini. Namun harga dipasaran justru anjlok hanya Rp 500/kilogram.
“karena harga terlalu murah dan daripada dibuang mending kita bagi-bagikan gratis untuk warga,” ujarnya kepada RRI, Jumat (9/8/2024).

Menurut Toufik, anjloknya harga tomat saat musim panen diakui banyak merugikan para petani, sebab para petani harus mengeluarkan modal hingga puluhan juta rupiah untuk biaya perawataan tanaman tomat darao mulai masa tanam hingga panen.
“kalau luas lahan tanaman tomat saya ada seperempat hektar, biaya yang saya keluarkan sekitar Rp 10 juta dan sekarang panen tapi harga tomat justru hancur lebur, dipanen pun dengan harga di pasar hanya Rp 500 per kilonya malah rugi petani,” keluhnya.
Selain membagi-bagikan tomat secara gratis bagi warga dan pengendara yang melintas, para petani di Kecamataan Jelbuk memilih untuk tidak memanen tanaman tomat di lahan mereka. Bahkan sebagian petani memilih untuk menebang tanaman tomat siap panen di wilayah tersebut.
Sementara Ketua Asosiasi Petani Pangan Indonesia Jawa Timur, Jumantoro mengungkapkan total ada sekitar 40 hektar lahan tanaman tomat petani di kecamataan Jelbuk memasuki masa panen namun justru dibiarkan mengering oleh para petani. Kondisi itu dipicu oleh anjloknya harga tomat saat memasuki musim panen raya.
“ beberapa minggu ini memang untuk harga komoditas holtikultura seperti terong, tomat justru terjun bebas berkisar Rp500 sampai Rp 1000, sehingga banyak teman-teman petani yang hasilnya dibagi-bagikan, ada juga yang langsung dibabat habis, dipanen pun bukan untung tapi petani justru buntung,” kata Jumantoro mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....