Mengenal Ragam Tradisi Lebaran Masyarakat Osing Banyuwangi

  • 05 Apr 2024 20:49 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember: Biasanya pada momen Lebaran, tradisi yang dilakukan masyarakat adalah keliling kampung untuk bersalam-salaman. Lain halnya dengan Banyuwangi, yang mempunyai beragam tradisi khusus dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri mengatakan, masyarakat Osing melakukan tradisi nyekar atau ziarah kubur dua, pada sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Kemudian tradisi bersih-bersih rumah dan memasang beberapa dekorasi untuk mempercantik suasana kampung.

"Menjelang Lebaran, kita bersih-bersih rumah. Lalu memasang beberapa hiasan di jalan-jalan," kata Hasan saat dialog interaktif di studio RRI Jember, Jumat (5/4/2024).

Sehari sebelum hari raya, lanjut dia, para ibu rumah tangga mulai sibuk di dapur. Sebagian orang pergi ke sungai, untuk membersihkan daging yang akan dimasak untuk sajian Lebaran. Salah satu masakan yang wajib disajikan adalah gulai entok.

"Jadi orang-orang itu tidak beli daging sapi. Tapi entok karena serat dagingnya hampir mirip sapi. Gulai entok ini biasa ditemui di Desa Rogojampi, Aliyan, Mangir, Gladak, Alasmalang, dan Singojuruh. Ada juga yang dimasak geseng," ujarnya.

Di malam Lebaran, masyarakat menggelar selametan penampan. Tradisi ini dilakukan dengan kegiatan makan bersama di depan rumah masing-masing dengan tujuan memohon berkah atas selesainya ibadah puasa.

Tradisi ini biasanya juga dilakukan saat menyambut datangnya bulan Ramadan. Tradisi penampan ini juga sebagai ritual sedekah bagi para leluhur yang sudah meninggal.

"Itulah kesibukan-kesibukan menjelang Lebaran. Kemudian setelah Isya, kegiatannya menyalurkan zakat fitrah ke masjid," tambahnya.

Setelah salat Idul Fitri, seperti biasa masyarakat saling memaafkan dan berkunjung ke rumah sanak saudara. Namun di beberapa desa, kata Hasan, ada yang melakukan ritual khas. Seperti contoh di Desa Bunder, yang menggelar selametan di pemakaman desa setempat.

"Selametan kuburan. Jadi masyarakat satu kampung itu ke kuburan dan selametan di sana," kata dia.

Kemudian beberapa tradisi lainnya digelar untuk bersih desa dan tolak bala. Seperti di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, yakni Seblang Olehsari. Sebuah ritual adat yang dilakukan masyarakat Osing pada awal bulan Syawal dan dilakukan selama tujuh hari berturut-turut.

Tradisi yang dilakukan adalah menunjuk seorang gadis untuk menjadi penari. Gadis tersebut harus mempunyai darah keturunan leluhur penari Seblang dan belum dalam keadaan akil baligh. Setelah itu, ia akan menari dengan mata tertutup selama 7 hari berturut-turut dan dalam keadan tidak sadar atau kesurupan.

Sehingga dia tidak akan merasa lelah selama menari. Tradisi ini mulai dikenal masyarakat luas dan menjadi agenda tahunan Banyuwangi Festival.

Tradisi lainnya adalah Ider Bumi yang dilakukan masyarakat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan warga dan sekaligus untuk menolak bala.

Barong Ider Bumi biasanya dilakukan setelah waktu dhuhur di hari kedua lebaran dengan melibatkan sajian kesenian. Barong diarak keliling desa. Kemudian ditutup dengan santap bersama pecel pitik, makanan khas masyarakat Osing.

Selanjutnya satu pekan setelah lebaran, umumnya masyarakat merayakan lebaran ketupat yang dimeriahkan dengan berbagai acara. Misalnya di Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Mereka menggelar Pawai Grebeg Syawal Sewu Kupat. Berbagai miniatur bangunan yang disusun dari ribuan ketupat diarak di sepanjang jalan.

Ada juga tradisi Puter Kayun yang dilakukan masyarakat Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi, saat memasuki hari ke sepuluh bulan Syawal, sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki sepanjang tahun. Tradisi ini dilakukan dengan cara beramai-ramai naik delman, mulai dari Kelurahan Boyolangu hingga berakhir di wisata Grand Watudodol.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....