Batik dan Filosofi, Cara Memperkuat Nilai Karya
- 02 Okt 2026 13:51 WIB
- Jember
Poin Utama
- Hari Batik
- Filosofi Batik
RRI.CO.ID, Jember: Peringatan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi momentum untuk kembali melihat batik bukan sekadar produk sandang, tetapi juga karya budaya yang memiliki nilai, cerita, dan filosofi.
Penasihat Asosiasi Batik Sekarjagat Blambangan Banyuwangi, Firman Sauki, mengatakan pengembangan batik perlu disesuaikan dengan karakter dan sasaran konsumennya. Hal tersebut disampaikannya dalam Dialog Jember Menyapa RRI Jember, Jumat 2 Oktober 2026.
Menurut Firman, salah satu cara meningkatkan nilai batik adalah memberikan filosofi dan cerita pada setiap motif, khususnya untuk menyasar konsumen kelas menengah hingga menengah atas.“Kita bisa membuat batik tulis dengan memberikan filosofi pada setiap motifnya. Dengan begitu, konsumen tidak hanya membeli batiknya, tetapi juga tertarik dengan makna dan filosofi yang ada di balik motif tersebut,” ujar Firman.
Ia mengibaratkan pengembangan nilai pada batik seperti memasak makanan. Sebuah produk akan memiliki rasa berbeda ketika diberikan tambahan bumbu yang sesuai. Hal serupa, menurutnya, dapat diterapkan dalam penciptaan karya batik.
Firman mencontohkan, sebuah karya batik dapat diperlakukan seperti proses melahirkan sebuah karya seni. Batik diberi nama, tema, sekaligus filosofi yang menjadi identitas karya tersebut.
Pendekatan itu dinilai dapat membuat batik memiliki nilai lebih di mata konsumen dan kolektor. Sebab, batik tidak selalu dipandang hanya sebagai pakaian yang dikenakan sehari-hari, tetapi juga dapat menjadi karya yang disimpan dan dikoleksi dalam jangka panjang.“Para pencipta atau kolektor batik biasanya tidak hanya menjadikan batik sebagai pakaian. Mereka bisa menyimpannya sebagai sebuah karya,” katanya.
Menurut Firman, ketika sebuah karya batik memiliki cerita dan identitas yang kuat, konsumen tidak hanya mengingat produk yang dibelinya, tetapi juga mengenal penciptanya.Karena itu, momentum Hari Batik Nasional dapat menjadi ruang refleksi bagi pelaku batik untuk terus mengembangkan karya, tanpa meninggalkan nilai budaya yang melekat pada batik.
Bagi Firman, penguatan filosofi dan cerita di balik motif menjadi salah satu cara agar batik tetap memiliki daya tarik sekaligus nilai budaya di tengah perkembangan selera konsumen.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....