Bahasa Isyarat Daerah (BISDA) Jember, Identitas Visual dan Linguistik Lokal
- 30 Sep 2026 23:05 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember: Acara Suara Nusantara di PRO 1 RRI Jember hari ini, Rabu 30 September 2026, menghadirkan perbincangan yang mendalam dan sarat makna mengenai kekayaan visual serta linguistik lokal yang kerap luput dari perhatian publik. Topik utama yang dibedah adalah Bahasa Isyarat Daerah (BISDA) Jember, sebuah sistem komunikasi di mana setiap gerak jemari dan ekspresi wajah menjadi rekam jejak budaya yang membentuk identitas kawan-kawan Tuli di tanah Jember. Acara istimewa ini menghadirkan dua figur penting di balik lahirnya karya monumental Kamus BISDA Jember, yaitu Asrorul Mais, ST, S.Pd, M.Pd., Wakil Rektor 3 UNIPAR Jember sekaligus Penulis Buku Kamus BISDA, serta Lailil Aflahkul Yaum, M.Pd., Ketua Prodi PLB UNIPAR sekaligus Editor Buku Kamus BISDA.
Asrorul Mais mengungkapkan, "Pemicu utama penyusunan kamus ini adalah kebutuhan mendesak untuk mendokumentasikan identitas lokal komunitas Tuli yang autentik. Budaya Pendalungan yang khas di Jember memberikan pengaruh besar yang membedakan ragam isyarat lokal dengan wilayah lainnya, menjadikannya cerminan akulturasi budaya yang unik. Proses penyusunan ini tidak dilakukan sembarangan, melainkan melalui riset mendalam untuk memastikan setiap ragam isyarat benar-benar representatif, autentik, dan disepakati langsung oleh komunitas Tuli lokal di Jember, dari 31 kecamatan yang ada di sini." ujarnya.
Sebagai editor, Lailil Aflahkul Yaum menghadapi tantangan besar, "Tantangan terbesar yang kami rasakan ialah saat editing, mengubah gestur, ekspresi, dan gerak tiga dimensi menjadi bentuk visual cetak tanpa menghilangkan ruh dan makna linguistiknya. Tantangan terbesar lainnya adalah menjembatani struktur Bahasa Indonesia formal dengan tata bahasa BISDA Jember yang memiliki karakter kebahasaan mandiri. Jember itu unik sekali." katanya.

Dalam kesempatan yang sama, mereka juga membagikan contoh istilah khas Jember dalam BISDA yang lahir langsung dari latar belakang konteks lokal masyarakat setempat, seperti menyebut kecamatan Ajung misalnya, yang identik dengan keberadaan bandara. Kamus BISDA Jember ini diproyeksikan secara strategis untuk mendorong inklusivitas di berbagai ruang publik, termasuk layanan pemerintah, fasilitas pendidikan, dan fasilitas umum di Kabupaten Jember. Buku ini bukan sekadar arsip, melainkan instrumen penting untuk meruntuhkan batasan komunikasi dan memberikan akses yang setara bagi semua kalangan. Melalui kolaborasi erat antara akademisi dan komunitas, karya ini diharapkan mampu mewujudkan lingkungan sosial yang lebih ramah disabilitas.
Menutup perbincangan di Suara Nusantara, Asrorul Mais menegaskan bahwa langkah krusial berikutnya adalah memastikan BISDA Jember tidak berhenti hanya sebagai dokumentasi tertulis semata. "Kamus BISDA harus terus hidup, diajarkan, dan dipelajari secara luas oleh masyarakat agar nilai-nilai kebudayaan serta inklusivitas dapat membumi. Di sini baru ada sekitar 700an kosa kata, sementara kata-kata yang khas Jember masih belum masuk, karena keterbatasan waktu dan tentu anggaran juga. Semoga BISDA bermanfaat. Sebab, seperti yang digaungkan dalam acara ini, setiap bahasa punya cerita, dan setiap isyarat punya makna yang patut dirayakan bersama." tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....