Pakar: Penurunan Kualitas Udara Merusak Keutuhan Sistem Pernafasan
- 30 Sep 2026 18:35 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Pakar Mikrobiologi Medis dan Pediatri, Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK UNEJ) dr. M.Ali Shodikin mengungkapkan bahwa penurunan kualitas udara akibat polusi, debu, dan dinamika iklim ekstrem menjadi faktor utama yang merusak keutuhan sistem pertahanan pernapasan masyarakat.
"Polutan udara berupa asap dan debu berukuran mikro merusak epitel serta fungsi pembersihan alami saluran pernapasan. Dampaknya muncul gejala sistemik seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, hingga sesak napas," ujar dr. Ali Shodikin, Rabu, 30 September 2026.
Hal ini disampaikan dr. Ali Sadikin seiring dengan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) khususnya di Kabupaten Jember yang mengalami lonjakan tajam sejak awal September 2026. Tren peningkatannya tidak hanya memicu antrean panjang di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas dan klinik mandiri, tetapi juga menyebabkan tingkat keterisian tempat tidur di sejumlah rumah sakit melonjak signifikan.
"Banyak Instalasi Gawat Darurat (IGD) menampung pasien rawat inap akibat minimnya ketersediaan ruang perawatan," imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa kendati polusi udara mengancam seluruh lapisan umur, dampak paling berat terdistribusi pada dua kelompok rentan utama yang akan mengalami gangguan respirasi berat akibat polusi adalah anak-anak balita dan lanjut usia di atas 60 tahun.
Seiring memburuknya kualitas udara sepanjang September 2026, lonjakan pasien ISPA tercatat didominasi oleh kelompok balita. Kenaikan drastis tidak hanya terjadi pada kasus ringan, melainkan juga pada kasus yang disertai komplikasi klinis.
"Memasuki September 2026, terjadi peningkatan tajam kasus ISPA, terutama pada balita. Jumlah pasien yang membutuhkan rawat inap naik signifikan," ujar dr. M. Ali Shodikin yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Jember.
dr Ali mengingatkan masyarakat untuk bisa membedakan antara batuk-pilek biasa dengan serangan Influenza A yang berpotensi memicu komplikasi fatal. Flu akibat Influenza A kerap diawali demam tinggi mendadak melebihi 40°C, disertai nyeri otot dan sendi yang berat, mual, hingga penurunan nafsu makan yang drastis.
"Masyarakat perlu mewaspadai red flags atau tanda bahaya komplikasi, seperti demam di atas 39°C yang tak kunjung turun, gejala dehidrasi, mata cekung, bibir kering, tidak buang air kecil lebih dari 6 jam, serta tanda sesak napas seperti napas cepat, adanya tarikan dinding dada ke dalam, kebiruan pada bibir, hingga penurunan kesadaran," bebernya.
Guna menahan laju rujukan ke rumah sakit, dr. Ali menekankan krusialnya penguatan peran fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dalam penapisan (screening) dini termasuk juga kesiapan SDM medis, ketersediaan obat-obatan, hingga fasilitas penunjang seperti rapid test Influenza maupun PCR.
"Puskesmas dan klinik mandiri harus diperkuat, baik dari kesiapan SDM medis, ketersediaan obat-obatan, hingga fasilitas penunjang diagnosis seperti rapid test Influenza maupun pemeriksaan PCR. Karena penanganan yang tepat di tingkat awal akan mencegah kasus ringan berkembang menjadi kondisi kritis," jelasnya.
Sebagai langkah penanggulangan mandiri di tingkat masyarakat, dr. Ali mengimbau agar penerapan protokol kesehatan kembali ditingkatkan secara disiplin antara lain penggunaan masker dan etika batuk, wajib menggunakan masker bagi warga yang sedang mengalami gejala flu serta terapkan etika menutup hidung/mulut saat batuk atau bersin.
Selain itu, bagi yang mengalami gejala flu baik anak-anak maupun orang tua harus melakukan isolasi mandiri dan segera istirahat dari aktivitas sekolah, mengaji, maupun kegiatan luar rumah, serta menghindari kebiasaan tidur larut malam.
Membiasakan cuci tangan dengan sabun setelah membersihkan ingus atau memegang area wajah, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan meminimalkan paparan asap rokok, pembakaran sampah, serta debu jalanan.
Selain itu, vaksinasi influenza tahunan secara berkala sangat disarankan untuk membentuk antibodi spesifik, mengingat virus influenza rutin mengalami mutasi genetik. Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan.
"Terapkan pola hidup bersih dan sehat, lindungi kelompok rentan di rumah, dan segera akses penanganan medis terdekat apabila menemukan tanda-tanda bahaya pada anggota keluarga," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....